Promosikan Indonesia, Ibu Ini Minim Dukungan Pemerintah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Usya Suharjono, penggagas Hello Indonesia, program promosi Indonesia di London. TEMPO/Bagja Hidayat

    Usya Suharjono, penggagas Hello Indonesia, program promosi Indonesia di London. TEMPO/Bagja Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua pekan lalu Usya Suharjono mendapat telepon dari kantor Wali Kota London. Pemilik restoran Nusa Dua di Ibu Kota Inggris itu ditanya apakah akan memakai Trafalgar Square kembali untuk menggelar Hello Indonesia tahun ini.

    Hello Indonesia adalah program promosi Indonesia yang ia gagas sejak 2014. Ini pagelaran kesenian, kuliner, budaya, dan pelbagai atraksi khas Indonesia di alun-alun Kota London itu. Saat digelar pada 31 Mei 2014, sebanyak 15 ribu pengunjung tumplek memenuhi gerai-gerai pelbagai makanan, menonton tari-tarian dan pelbagai atraksi di panggung besar di tengah Trafalgar.

    Pemerintah Kota London menganggap acara itu sukses sehingga proposal Usya diterima kembali ketika akan mengadakan pagelaran serupa tahun berikutnya. “Waktu mengajukan pertama, mereka akan evaluasi untuk menyetujui proposal tahun depan,” kata perempuan 52 tahun ini di Jakarta pada Selasa, 9 Februari 2016.

    Bukan perkara mudah bisa menembus kantor Wali Kota London. Usya harus bolak-balik meyakinkan bahwa “Hello Indonesia” acara yang bagus dan prestisius, mengusung budaya Indonesia yang belum banyak dikenal oleh umumnya orang Eropa.

    Ide membuat “Hello Indonesia” tercetus dua tahun sebelumnya. Usya dan suaminya, Firdaus Ahmad, sejak 1980 membuka restoran di London. Ia gusar melihat begitu gencar promosi pariwisata dan budaya negara-negara Asia di Inggris. Di bus kota, di kereta bawah tanah, atau di iklan-iklan sudut jalan yang ia lihat hanya promosi Singapura, Malaysia, atau Thailand. “Tak pernah saya lihat ada promosi Indonesia,” katanya.

    BACA: Kisah Bekas Kenek Jadi Pengusaha Sukses di London

    Ketika mudik ke Indonesia pada 2013, Usya melihat pameran The Great Britain di mal Senayan City Jakarta. Great Britain adalah promosi Inggris yang dihelat oleh Kedutaan mereka di Jakarta. Pangeran Andrew membuka acara itu. Usya memberanikan diri menemuinya. Ia bercerita bahwa Ratu Elizabeth II, ibu Andrew, setahun sebelumnya mengundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan penghargaan Knight Grand Cross in the Order of the Bath, penghargaan tertinggi bagi mereka yang berjasa di bidang militer dan sipil.

    BACA: Ke Inggris, SBY Mendapat Gelar Ksatria

    Usya membuka percakapan itu untuk memberikan pengertian bahwa Inggris-Indonesia punya hubungan baik. “Kami bisa membuat acara seperti Great Britain di London,” katanya. Rupanya Pangeran Andrew tertarik dengan ide itu. Ia berjanji akan menghubungkan Usya dengan para pejabat Kota London untuk keperluan tempatnya.


    Selama setahun, Usya menemui banyak orang di London. Ia melobi, presentasi, dan menyakinkan mereka agar bersedia menyewakan Trafalgar Square untuk acara yang diberi nama “Hello Indonesia” yang belum ada contohnya. Semua itu ia lakukan sendiri. “Yang ingin menyewa Trafalgar Square itu antri,” kata Usya. “Hampir semua negara ingin pameran di situ.”

    BACA: Pangeran Andrew Buka Great Britain Week di Jakarta

    Alih-alih menyetujui proposal itu, Usya ditawari dua tempat: mal Westpile di London Barat dan Hydepark di dekat Westminster. Usya kukuh di Trafalgar. Dua area itu memang tempat publik tapi bukan tempat berkumpul para turis. Ke Trafalgar para turis nongkrong karena alun-alun yang menjadi ikon London sejak abad 13 itu berada di jantung kota, dikelilingi kafe, museum, kantor pemerintah, dan tempat hiburan.

    Pengelola Trafalgar luluh juga. Usya diizinkan dengan syarat itu tadi, harus sukses. Ia diberi tempat seluruh taman seluas 2.000 meter persegi itu. Kepusingan berikutnya adalah mengisi gerai dan acara Hello Indonesia. “Saya hanya penunggu restoran, tak punya ilmu sama sekali menyelenggarakan acara besar,” kata lulusan sekolah manajemen di London ini.

    Modalnya cuma satu: hubungan baik dengan pembeli makanannya di Nusa Dua. Ke restorannya itu, juga Wisma Indonesia yang ia sewakan 20 pon per malam untuk turis Indonesia di Colindale, banyak tamu yang datang dan menjalin pertemanan. Mereka berasal dari pelbagai kalangan: pengusaha yang punya anak sedang sekolah di London, pejabat pemerintah, musikus, politikus.

    Usya mengontak mereka agar mau mengisi acara atau gerai. Syaratnya satu: cari ongkos sendiri untuk sampai ke London. Di London, Usya mengontak orang Indonesia yang tinggal di sana untuk membuat dan menyediakan makanan khas Indonesia. Kedutaan Indonesia, setelah diyakinkan berkali-kali, memberikan secarik memo yang menjelaskan bahwa Usya memang penyelenggara Hello Indonesia. Usya membawa memo itu ke bank-bank Indonesia di London dan Jakarta agar bersedia menjadi sponsor.

    Di luar dugaan, mereka yang dihubungi Usya bersedia tampil di panggung besar Hello Indonesia. Ada sekolah yang mengirimkan satu tim penari Jawa yang berangkat dengan ongkos sendiri. Ada satu tim pemain angklung, juga penari Papua oleh mahasiswa Indonesia di sana. Duta Besar Indonesia Hamzah Thayeb, dalam pidato penutupan, menyebut Hello Indonesia  “Acara besar tersukses pertama sejak hubungan diplomatik Indonesia-Inggris pada 1950.”

    Pejabat Kota London setuju dengan Hamzah. Mereka langsung setuju ketika Usya mengajukan proposal penyewaan Trafalgar Square untuk Hello Indonesia pada 2015. Belajar dari 2014, Usya mulai melobi pemerintah di Jakarta dan pemerintah daerah lewat kenalan-kenalannya agar mau mensponsori pelbagai kesenian daerah berangkat ke London.

    Rupanya gaung kesuksesan Hello Indonesia 2014 tak sampai ke dalam negeri. Usya tak mendapat dukungan sama sekali. Kedutaan Besar Indonesia di London meminta bank yang jadi sponsor tahun sebelumnya mengalihkan sponsorsip untuk kegiatan promosi Indonesia oleh Kedutaan di Notthingham University. Usya tinggal sendirian.

    Ia hampir membatalkan Hello Indonesia karena bingung mencari dananya. Tahun 2014 saja anggaran yang ia habiskan untuk menggelar acara itu hampir 150 ribu pon atau Rp 3 miliar. Suaminya, yang biasanya mendorong istrinya dengan segala upaya, juga hampir menyerah. “Sudahlah, bikin Hello Indonesia malah kita rugi,” katanya. Soalnya biaya besar itu diambil dari kantong mereka sendiri.

    Usya tak menyerah karena tak ingin merusak kepercayaan pemerintah London jika Hello Indoensia batal. Ia mengontak seorang kenalan karena tak sengaja menemukan Wisma sewaktu liburan, Anniesa Hasibuan—pemilik agen perjalanan umrah First Travel—untuk mau menjadi sponsor. Anniesa bersedia.

    BACA: Andika Surachman, Jadi Miliarder Lewat Umrah

    Hello Indonesia tampil pada 1 Juni 2015. Ada 25 gerai di sekeliling Trafalgar Square. Dan, penontonya membludak mencapai 30 ribu orang! Dengan ongkos sendiri, penyanyi Titiek Puspa mendendangkan lagu-lagu daerah di panggung besar itu. Fitri Ardantya, pemilik usaha desain grafis di Jakarta yang kenal Usya-Daus sejak sekolah di London, tampil memperagakan cara membuat batik.

    Ia membawa kompor, canting, kain, juga cat, dari Jakarta. Banyak turis yang antri meminta diajari cara membantik. “Sampai gerai harus saya tutup sementara untuk pipis,” katanya.

    Menurut Fitri, para turis serius ingin belajar membatik. Mereka bertanya apakah Fitri membuka sekolah batik di London dan alamat kantornya. Fitri kelimpungan karena ia tampil di Hello Indonesia karena hobi semata dan dihubungi Usya agar tampil di acara itu. Para turis gigit jari ketika Fitri menjelaskan keadaan sebenarnya.

    Kini bukan Usya yang mengajukan proposal menyewa Trafalgar. Dua pekan lalu ia ditelepon pejabat Kota London dan ditanya apakah akan menyewa kembali alun-alun itu untuk Hello Indonesia. Mereka menyediakan waktu hari Minggu, 14 Agustus 2016. “Saya sanggupi dan mudah-mudahan kali ini pemerintah mendukung,” katanya.

    Ia buru-buru ke Jakarta untuk presentasi di depan Badan Ekonomi Kreatif, yang seorang pejabatnya ia kenal karena makan di restorannya tahun lalu. Untuk kali ini Usya ingin menampilkan reog Ponorogo, batik pelbagai daerah, kain-kain Nusantara, kuda lumping, pariwisata Indonesia Timur, selain makanan khas Indonesia yang penuh bumbu dan maknyus.

    Tujuan Usya ngotot membuat Hello Indonesia meski tak didukung pemerintah cuma satu: “Agar Indonesia yang lebih kaya dari negara Asia lain lebih dikenal di Eropa, lalu mereka berbondong-bondong datang ke Indonesia melihat yang sebenarnya.”

    BAGJA HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.