Novel Baswedan Ditawari Posisi di BUMN, Barter Kasus?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di Gedung Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 10 Desember 2015. ANTARA/Reno Esnir

    Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di Gedung Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 10 Desember 2015. ANTARA/Reno Esnir

    TEMPO.COJakarta - Kuasa hukum Novel Baswedan, Muji Kartika Rahayu, mengatakan kliennya mendapat tawaran posisi di badan usaha milik negara (BUMN) dari pimpinan KPK sekitar seminggu yang lalu.

    “Tidak tahu dalam rangka apa,” ujarnya melalui pesan pendek pada Minggu, 7 Februari 2016. 

    Muji mengatakan bisa jadi tawaran itu ada kaitannya dengan barter penyelesaian kriminalisasi yang tengah membelit penyidik KPK tersebut. “Jika benar, itu membuktikan kasus Novel Baswedan memang bukan kasus hukum, melainkan kasus politik,” tuturnya.

    Ihwal barter kasus, Muji membenarkan bahwa sempat ada tawaran kepada Novel yang berisi penyelesaian terhadap kasusnya asalkan Novel mau keluar dari KPK. Soal barter yang ini, Muji menyebutkan tidak ada syarat. “Tanpa tawar-tawaran pindah ke BUMN,” katanya. Muji pun berkata Novel menolak dengan tegas tawaran tersebut.

    Novel dijadikan tersangka kasus penembakan tersangka pencurian sarang burung walet pada 2004. Novel, yang ketika itu menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bengkulu, ditetapkan sebagai tersangka meskipun bukan ia yang menembak.

    Delapan tahun kemudian, atau pada 2012, kasus itu dicuatkan lagi. Saat itu KPK tengah menyidik kasus korupsi yang menjerat Kepala Korps Lalu Lintas Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Kasus tersebut sempat mereda setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan, tapi kembali diungkit saat KPK menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka pada awal tahun lalu.

    Tempo mencoba mengkonfirmasi hal ini kepada pimpinan KPK, tapi belum mendapat jawaban.

    BAGUS PRASETIYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.