Penambangan Pasir Pantai Liar di Lumajang Masih Terjadi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis penolak tambang pasir Lumajang, Tosan (kanan) bersama istrinya Ati Hariati saat di temui petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, 13 Oktober 2015. Setelah dinyatakan pulih oleh dokter, korban kekerasan penolak tambang pasir di desa Selok Awar-awar Lumajang tersebut hari ini boleh meninggalkan rumah sakit. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Aktivis penolak tambang pasir Lumajang, Tosan (kanan) bersama istrinya Ati Hariati saat di temui petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, 13 Oktober 2015. Setelah dinyatakan pulih oleh dokter, korban kekerasan penolak tambang pasir di desa Selok Awar-awar Lumajang tersebut hari ini boleh meninggalkan rumah sakit. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Penambangan pasir liar di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih terjadi. Pada Rabu malam, 3 Februari 2016, puluhan warga, termasuk Tosan, 51 tahun, ikut menghadang empat dump truck pengangkut pasir.

    Penambangan pasir pantai liar di Desa Selok Awar-awar menjadi isu nasional. Tosan dan Salim Kancil, 52 tahun, menjadi korban penganiayaan sekelompok orang pada Sabtu, 26 September 2015. Keduanya dikenal memimpin warga menentang penambangan pasir di desanya.

    Akibat penganiayaan itu, Salim Kancil tewas. Sedangkan Tosan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Syaiful Anwar, Malang, akibat luka yang dideritanya. Aksi kekerasan itu mengakibatkan warga Dusun Krajan II, Salim, 52 tahun, tewas. Sedangkan Tosan, warga Dusun Persil, dalam kondisi kritis akibat luka parah yang dideritanya. Para pelaku penganiayaan, termasuk Kepala Desa Selok Awar-awar, bakal menghadapi persidangan di Pengadilan Negeri Lumajang.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, empat dump truck itu masuk ke areal penambangan pasir pada Rabu sore, 3 Februari 2016, pukul 16.00 WIB. Dari empat dump truck itu, tiga di antaranya dari Surabaya dengan nomor polisi L-9053-UC, L-9068-UC, dan L-9069-UC. Sedangkan sebuah truk dari Jember dengan nomor polisi P-9259-UN.

    Pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, empat truk itu beriringan keluar dari pesisir pantai selatan. Masing-masing memuat pasir yang dikemas dalam ratusan sak. Sejumlah warga Desa Selok Awar-awar yang sudah mendeteksi aktivitas penambangan yang dilakukan secara manual itu mengejar empat truk tersebut. Di antara warga itu tampak Tosan dan Hamid. Hamid adalah juga tokoh antitambang, yang menjadi sasaran teror pascapenganiayaan terhadap Salim Kancil dan Tosan.

    Warga yang mengendarai sepeda mencegatnya di utara kantor Kepolisian Sektor Tempeh. Semua truk diamankan di Polsek Tempeh. Para pengemudinya diperiksa. Pada Kamis pagi, 4 Februari 2016, truk dan para pengemudinya dibawa ke Markas Kepolisian Resor Lumajang.

    Salah seorang pengemudi truk, Khoiron, mengatakan dia baru datang di Lumajang pada Rabu pagi. "Saya diminta mengambil pasir oleh pengurus dump truck," katanya saat diperiksa di Polsek Tempeh. Khoiron adalah warga Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dia menjelaskan, ada penunjuk jalan yang mengantarkan ke lokasi pasir berada.

    Pengemudi truk lainnya juga mengaku tidak tahu pasir yang akan diangkut berasal dari Selok Awar-awar. Mereka mengatakan baru pertama kali ke Lumajang dan menyatakan penyesalannya. "Seandainya tahu pasir dari desanya Salim Kancil, mendingan kami pulang saja, enggak usah mengangkut," ujar salah seorang pengemudi.

    Hingga saat ini empat pengemudi truk masih diamankan di Markas Polres Lumajang. Mereka menjalani pemeriksaan di Unit Pidana Khusus Polres Lumajang.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.