Kamis, 19 Juli 2018

Gas H2S Terbukti Temani Warga di Sekitar Sumur Petrochina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis dari Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Petrochina East Java, melakukan pengobatan kepada para siswa di Madrasah Ibtidaiyah dan warga setempat, akibat  menghirup  gas buangan dari sumur minyak itu di Bojonegoro, (5/12). ANTARA/Aguk Su

    Petugas medis dari Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Petrochina East Java, melakukan pengobatan kepada para siswa di Madrasah Ibtidaiyah dan warga setempat, akibat menghirup gas buangan dari sumur minyak itu di Bojonegoro, (5/12). ANTARA/Aguk Su

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Dugaan pencemaran gas di sekitar sumur minyak milik Join Operating Body Pertamina PetroChina East Java (JOB-PPEJ) di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur semakin kuat. Dugaan adanya pencemaran berupa merebaknya bau busuk itu telah menyebabkan sejumlah warga jatuh pingsan pada Minggu 31 Januari 2016.

    Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bojonegoro menyatakan kandungan gas Hidrogen Sulfida (H2S) di sekitar sumur itu termasuk kategori siaga alias berada di ambang batas atas. Kesimpulan itu didapat dari hasil pengukuran di lokasi pada minggu petang hingga jelanh tengah malam.

    “Positif udaranya mengandung H2S,” ujar Kepala Bidang Pengkajian dan Laboratorium Lingkungan BLH Bojonegoro, Heri Susanto, abu 3 Februari 2016.

    Petugas BLH Bojonegoro mendeteksi ada kandungan H2S dalam udara setempat sebanyak 2 ppm (part per million). Pengukuran di lokasi dilanjutkan pada Senin siang pukul 11.00 dan hasilnya terdeteksi kandungan gas yang sama sebanyak 1 ppm.

    ”Kandungan H2S di udara memang labil,” kata Heri. Kandungan gas itu kadang muncul dan terindikasi dengan bau busuk tetapi kemudian menghilang. ”Namanya juga gas.”

    Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 42 Tahun 2015, tentang Usaha Minyak dan Gas Bumi, ambang batas kandungan H2S dalam udara semestinya tak lebih dari 1 ppm. Adapun data hasil pengukuran yang sudah dilakukan Minggu dan Senin lalu telah diteruskan ke Bupati Bojonegoro.

    BLH Bojonegoro sendiri telah merekomendasikan Pemerintah Bojonegoro agar mendesak JOB-PPEJ memasang alat semacam early warning system (berjarak sekitar 300 meter hingga 600 meter) dari lokasi sumur minyak Lapangan Sukowati, Bojonegoro. Apalagi di areal tersebut terdapat desa-desa terdekat, yaitu Desa Ngampel dan Desa Sambiroto Kecamatan Kapas dan Desa Campurejo Kecamatan Kota Bojonegoro.”Alat deteksi hanya ada di lokasi. Tapi di luar tidak ada,” imbuhnya.

    Kepala Desa Sambiroto Sudjono mengatakan, di desanya tidak ada alat deteksi dini gas. Padahal, lokasi desanya masuk kawasan ring satu yang berjarak antara 300 meter hingga 700 meter dari tambang milik JOB-PPEJ. Itu sebabnya, dia menambahkan,M ketika ada muncul gas, warga selalu kebingungan.

    Field Admin Superintendent JOB-PPEJ Akbar Pradima, yang dikonfirmasi lewat telepon tidak ada jawaban meski dalam keadaan aktif. Namun, ada keterangan tertulis yang menyebutkan, pihaknya melakukan reaktivikasi terhadap sumur PAD A Sukowati. Perawatan sumur ini untuk memenuhi target yang diberikan pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). “Sedang ada perawatan sumur minyak,” ujarnya Rabu 3 Februari 2016.

    Seperti diketahui sebanyak 11 warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, mengalami keracunan gas beracun semacam H2S pada Senin 1 Februari 2016. Diduga gas yang membuat pingsan itu berasal dari pengeboran miunyak di Sumur A Sukowati, yang dikelola JOB-PPEJ.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Musim Berburu Begal Saat Asian Games 2018 di Jakarta

    Demi keamanan Asian Games 2018, Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar operasi besar-besaran dengan target utama penjahat jalanan dan para residivis.