Lomba Metode Pemetaan Gambut Digelar, Hadiahnya 1 Juta Dolar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kedua kanan) berkoordinasi dengan para bawahannya usai menyusuri pematang kanal bersekat yang dibangun untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 31 Oktober 2015. ANTARA/Saptono

    Presiden Joko Widodo (kedua kanan) berkoordinasi dengan para bawahannya usai menyusuri pematang kanal bersekat yang dibangun untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan gambut di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 31 Oktober 2015. ANTARA/Saptono

    TEMPO.COJakarta - Badan Informasi Geospasial (BIG) menggelar Indonesian Peat Prize atau Kompetisi Metode Pemetaan Gambut Indonesia dengan hadiah US$ 1 juta. Kompetisi ini didukung David dan Lucile Packard Foundation, dan pelaksananya adalah World Resources Institute Indonesia (WRI). 

    “Kompetisi ini menggabungkan keterampilan, kerja sama, dan kreativitas dari seluruh Indonesia--dan masyarakat dunia--dalam menjawab salah satu tantangan besar pada zaman ini,” kata Kepala BIG Priyadi Kardono ketika meluncurkan kompetisi itu di Jakarta, Selasa, 2 Februari 2016.

    Tujuan lomba ini adalah untuk mendapatkan metode pemetaan lahan gambut yang lebih akurat dan cepat guna mengetahui luas dan ketebalan lahan gambut di Indonesia. Lahan gambut berperan penting dalam menjaga keragaman hayati dan pengaturan iklim. 

    Namun lahan ini juga sangat diminati sejumlah pemangku kepentingan yang akhirnya mempercepat kerusakan, mengakibatkan lepasnya karbon dioksida dalam jumlah besar ke udara. 

    Menurut data Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dari Bappenas, emisi karbon lahan gambut dari pembusukan gambut dan kebakaran gambut menyumbang 42 persen dari seluruh emisi Indonesia. 

    Priyadi Kardono menjelaskan diperlukan transformasi dalam mengelola lahan gambut. Langkah pertama adalah memetakan lahan gambut secara cepat dan akurat. Pemetaan ini akan memberi informasi yang diperlukan dalam mengelola secara efisien dan efektif, termasuk dalam melakukan berbagai kegiatan restorasi yang dibutuhkan.

    Direktur World Resources Institute Indonesia (WRI) Tjokorda Nirarta Samadhi mengatakan Indonesia Peat Prize akan berlangsung selama dua tahun. Pendaftaran dan kualifikasi dimulai pada 2 Februari 2016. 

    Kompetisi ini memberikan penghargaan US$ 1 juta kepada tim yang berhasil membuat dan mendemonstrasikan metodologi yang transparan, kredibel, serta bisa direplikasi di lokasi mana pun guna memetakan luas dan ketebalan lahan gambut di Indonesia. 

    “Metode yang berhasil akan diumumkan pada akhir 2017, juga akan dapat membantu merevisi standar nasional pemetaan lahan gambut di Indonesia,” lanjut Nirarta Samadhi.

    Panitia mengundang mahasiswa, konsultan, pimpinan lembaga, ilmuwan, lembaga penelitian, perusahaan, universitas, CSO, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau siapa pun yang memiliki ide bagus untuk mendaftar. 

    Dewan Penasihat Ilmiah yang dibentuk untuk kompetisi ini akan mengkaji semua aplikasi yang masuk dan melakukan kualifikasi. Mereka memberikan rekomendasi mengenai peserta, para finalis, dan pemenangnya kepada BIG dan Packard Foundation. 

    Calon peserta yang berminat dan memenuhi syarat dapat mendaftar hingga 11 Mei 2016. Mereka dapat berkunjung ke situs www.indonesianpeatprize.com untuk keterangan lebih lanjut.

    UNTUNG WIDYANTO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.