Pengikut Gafatar Ini Unjuk Kemahiran Bikin Penjernih Air  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nasional (Gafatar) mengantri makanan di tempat penampungan sementara Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Selama tiga hari kedepan mereka akan dikarantina guna mendapatkan pendampingan dan pemahaman mengenai deradikalisasi. TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nasional (Gafatar) mengantri makanan di tempat penampungan sementara Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Selama tiga hari kedepan mereka akan dikarantina guna mendapatkan pendampingan dan pemahaman mengenai deradikalisasi. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang ditampung di Youth Center, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak semuanya apatis menghadapi nasib mereka setelah dipulangkan dari Kalimantan. Salah satu di antaranya justru bersemangat ketika diberi kegiatan sesuai keahlian membuat peralatan penjernih air.

    Adalah Sugiyanto, 29 tahun, warga Gamping, Sleman,  yang ikut eksodus ke Kalimantan Barat enam bulan lalu menunjukkan keahliannya membuat peralatan penjernih air. Air yang semula kotor, setelah diproses peralatan buatannya bisa langsung diminum tanpa harus dimasak dan sehat.

    "Basis saya teknik, jadi mengurusi kelistrikan dan teknologi. Salah satunya saya membuat alat penjernih air," kata dia, Selasa, 2 Februari 2016.

    Alat yang digunakan sangat sederhana. Yaitu dengan paralon ukuran 4 dim (desimeter) dan 2 dim di dalamnya. Di dalam paralon itu diisi batu  batu alam putih, zeloith dan karbon aktif. Di dalam bak penampungan air, jika airnya sangat keruh diberi batu kapur dan sebelum masuk ke dua paralon penjernihan tersaring kain kasa sebagai filter.

    Air yang awalnya keruh, saat keluar dari keran akhir, air sudah jernih. Hanya menunggu selama 20 menit setelah bebatuan baru dimasukkan dalam paralon, air sudah bisa jernih. "Untuk tahap awal, air dibuang dulu karena masih membersihkan bebatuan, setelah itu air jernih terus," kata dia.

    Hasilnya, setelah air diukur dengan PH meter, rata-rata PH nya mencapai 6. “Sudah layak minum," kata dia. Untuk membuat alat pembuat air layak minum hanya butuh biaya Rp 1,5 juta.

    Ia berkisah, saat berada di Mempawah, Kalimantan Barat, air sangat keruh. Sebab, air di sana adalah air lahan gambut yang warnanya kecokelatan. "Di kamp di Kalimantan kami minum air dari alat seperti ini," kata dia.

    Rata-rata, kata dia, untuk membuat alat penyaring air layak minum hanya butuh biaya Rp 1,5 juta.

    Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kabupaten Sleman,  Untoro Budiharjo, pengikut Gafatar yang dipulangkan akan dibina dalam  lapangan kerja. "Tidak memberi ikan, tetapi memberi kail untuk lapangan kerja," kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.