Kasus Masinton Pasaribu, Dita Aditia Klaim Punya Bukti Kuat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, Dita Aditia, saat memberikan pengaduan dan perlindungan, di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, 1 Februari 2016. Dita Aditia meminta perlindungan terkait kasus tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Masinton Pasaribu. TEMPO/Imam Sukamto

    Staf anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, Dita Aditia, saat memberikan pengaduan dan perlindungan, di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, 1 Februari 2016. Dita Aditia meminta perlindungan terkait kasus tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Masinton Pasaribu. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan Ratna Batara Munti mengklaim punya bukti kuat terkait dengan dugaan pemukulan yang dilakukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu, terhadap Dita Aditia Ismawati.

    "Korban (Dita) datang langsung ke kami. Korban adalah saksi yang paling kuat. Kesaksian korban adalah kesaksian yang paling dihargai," kata Ratna saat ditemui setelah melaporkan Masinton ke MKD, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 2 Februari 2016.

    Selain itu, menurut Ratna, ada bukti lain berupa hasil visum dan foto korban. "Ada juga saksi lain, yakni teman-teman korban yang berjumlah delapan orang. Mereka menyatakan Dita tidak mabuk," ujar Ratna, yang didampingi dua kuasa hukum Dita.

    Hari ini, Ratna Batara Munti bersama dua orang kuasa hukum Dita datang ke Sekretariat Mahkamah Kehormatan Dewan untuk menyerahkan persyaratan administrasi pengaduan. Ratna diterima dua petugas sekretariat MKD. Setelah itu, rombongan Ratna bertemu dengan Wakil Ketua MKD Sufmi Dasco Ahmad.

    Ratna berharap, MKD dapat memberikan sanksi yang tegas kepada Masinton, yang merupakan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Korban telah membeberkan fakta yang sebenarnya, bahwa dia betul-betul dianiaya oleh Masinton Pasaribu," kata Ratna.

    Sebelumnya, Masinton dilaporkan Dita ke Bareskrim pada Sabtu, 30 Januari 2016, atas tuduhan penganiayaan. Menurut keterangan Dita, Masinton memukul matanya pada Kamis, 21 Januari 2016.

    Kejadian itu bermula saat Masinton menjemput Dita di Camden Bar, Cikini, Jakarta Pusat. Dita diduga dipukul Masinton di dalam mobil. Namun Masinton membantah telah memukul asisten pribadinya itu. Menurut dia, Dita dipukul staf ahlinya yang lain.

    Masinton membantah telah melakukan pemukulan. Dia mengaku menjemput Dita karena asisten pribadinya itu dalam keadaan mabuk. Menurut Masinton, saat mereka berada di jalan ke arah Cawang untuk mengantarnya pulang, Dita tiba-tiba menarik stir mobil. Tenaga ahli Masinton yang lain, Abraham, secara refleks menepis tangan Dita, tapi ternyata mengenai wajah wanita itu.



    ANGELINA ANJAR SAWITRI

    Baca juga:
    Bogor Diguyur Hujan Lebat, Jakarta Siaga 3 Banjir 
    Dibahas WHO, Virus Zika Lebih Buruk daripada Ebola  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.