Kasus Penganiayaan Dita, PDIP Percaya Versi Masinton  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Panitia Khusus (Pansus) Pelindo II Masinton Pasaribu menyampaikan pertanyaan dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II dengan Jaksa Agung HM Prasetyo di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anggota Panitia Khusus (Pansus) Pelindo II Masinton Pasaribu menyampaikan pertanyaan dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II dengan Jaksa Agung HM Prasetyo di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Arif Wibowo, menyatakan bahwa fraksi PDIP percaya pada keterangan anggota fraksinya, Masinton Pasaribu, terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan Masinton pada   asisten pribadinya, Dita Aditia Ismawati.

    “(Masinton) Sudah dipanggil, kemarin dan hari ini. Prinsipnya, apa yang disampaikan Pak Masinton kami percaya sebagai sesuatu yang benar-benar mewakili fakta yang terjadi,” ujar Arif Wibowo, saat dihubungi pada Senin, 1 Februari 2016.

    Anggota Komisi Pemerintahan Dalam Negeri DPR ini mengatakan penjelasan yang diberikan oleh Masinton sama dengan apa yang dituturkan Abraham Leo Tanditasik, tenaga ahli Masinton. Menurut Abraham, pada awalnya, Dita menelepon dirinya dan  minta dijemput di Camden Bar, Cikini, karena Dita dalam kondisi mabuk. Saat itu, Abraham sedang berada dalam mobil, menuju ke rumah dinas anggota DPR di Kalibata bersama Masinton.

    Baca juga: Sudah dua kali Masinton pukul Dita

    Karena itu, Masinton pun akhirnya ikut menjemput Dita. Dita kemudian duduk di kursi depan samping pengemudi. Menurut Abraham, di dalam perjalanan, Dita sering berteriak histeris dan tertawa sambil membesarkan volume tape mobil. Saat berada di daerah Otto Iskandardinata, Dita tiba-tiba menarik setir mobil. Mobil yang oleng membuat Abraham refleks menepis tangan Dita dan mengenai wajah Dita.

    Baca juga: LBH APIK: Dita Tidak dalam Kondisi Mabuk

    Menurut Arif, permasalahan yang kini muncul merupakan urusan pribadi antara Masinton dengan Dita. Arif justru mempertanyakan mengapa kasus itu baru dilaporkan kepada pihak kepolisian sembilan hari setelah kejadian. “Pelaporan melibatkan Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem DKI Jakarta (Wibi Adrino). Kami bertanya-tanya, apa yang terjadi sesungguhnya?” ujar Arif.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.