Targetkan 1.000 Ha, Gafatar Jadikan Kalimantan sebagai Lumbung Pangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    Satu keluarga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) turun dari bus yang menghantarkan mereka dari tempat penampungan asrama haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah menuju Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Total sebanyak 5 bus mengangkut mantan anggota Gafatar yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.COBoyolali  - Menurut salah seorang pengikut Gerakan Fajar Nusantara asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Zainudin, 40 tahun, organisasinya menargetkan Pulau Kalimantan sebagai pusat lumbung pangan yang dapat mencukupi kebutuhan seluruh Indonesia.

    “Kami memasang target dalam tujuh tahun bisa mengolah lahan seluas 1.000 hektare di Kalimantan untuk pertanian,” katanya saat ditemui Tempo di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, pada Senin, 1 Februari 2016.

    Zainudin berujar rencana mewujudkan program kemandirian pangan di Kalimantan itu telah disiapkan Gafatar secara matang sejak 2014. Sejak saat itu, para pengurus Gafatar di berbagai daerah mulai gencar melakukan sosialisasi kepada warga yang berminat untuk bergabung.

    Menurut Zainudin, tiap pengikut Gafatar ditargetkan bisa mengumpulkan modal masing-masing Rp 40 juta. Modal tersebut kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk membeli lahan, membangun permukiman, membeli alat-alat pertanian, hingga untuk persediaan selama menunggu masa panen.

    “Tapi target sebesar itu tidak wajib. Meski tidak punya uang, mereka tetap diberangkatkan ke Kalimantan selama punya semangat untuk bekerja sama,” ujarnya. Bersama istri dan empat anaknya, Zainudin termasuk rombongan yang terdiri atas 20 orang dari Simalungun yang berangkat ke Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Oktober 2015.

    Tidak seperti pengikut Gafatar lain yang menjual harta bendanya, sebagai buruh tidak tetap, Zainudin hanya bisa mengumpulkan uang kurang dari Rp 40 juta dari hasil meminjam kepada sejumlah temannya di kampung. Dia menambahkan, para pengikut Gafatar berangkat tanpa ambisi memperkaya diri sendiri.

    Menurut Zainudin, memang ada rencana membagi keuntungan hasil panen sesuai dengan besar modal awal masing-masing. “Tapi rencana itu masih jauh. Sebab, keuntungan dari panen akan diputar menjadi modal untuk membuka lahan lagi. Begitu seterusnya sampai swasembada pangan untuk Indonesia bisa terwujud,” ucapnya.

    Kini, semua harapan itu berangsur pupus setelah Zainudin dan ribuan pengikut Gafatar lain dipulangkan ke Jawa oleh pemerintah. Zainudin termasuk rombongan 126 warga asal Sumatera Utara yang tiba di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, sejak Rabu pekan lalu.

    “Pemerintah Provinsi Sumatera Utara belum bisa dimintai konfirmasi ihwal kapan mereka akan menjemput warganya di sini,” kata Kepala Sub-Bidang Pemilu, Pendidikan, dan Budaya, Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Jawa Tengah Haerudin.

    Haerudin menambahkan, saat ini pemerintah masih berupaya menelusuri dan mendata seluruh aset milik pengikut Gafatar yang tertinggal di Kalimantan. “Kalau dilarang kembali ke Kalimantan, kami akan menuntut pemerintah mengganti semua kerugian kami. Kami pulang mau apa, sudah tidak punya apa-apa lagi,” katanya.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.