Eks Gafatar Asal Subang, Terusir Setelah Panen Jagung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas gabungan TNI-Polri membantu pengungsi Eks Gafatar menuruni KRI Teluk Bone di Dermaga JICT II, Jakarta, 28 Januari 2016. Beberapa di antara pengungsi dalam keadaan sakit dan hamil. TEMPO/Ahmad Faiz

    Petugas gabungan TNI-Polri membantu pengungsi Eks Gafatar menuruni KRI Teluk Bone di Dermaga JICT II, Jakarta, 28 Januari 2016. Beberapa di antara pengungsi dalam keadaan sakit dan hamil. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Bandung - Sebanyak 15 orang eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Subang, mulai mengisi Rumah Perlindungan Dinas Sosial di Subang. Mereka dijemput dari Rumah Perlindungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat di Bandung.

    Selama di perjalanan dan di dalam Rumah perlindungan Dinsos Subang, mereka mendapatkan pengamanan dari petugas TNI, Polri, dan Satpol PP. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Subang Hayat Hidayat, Senin, 1 Februari 2016, mengatakan bahwa sebelum para eks Gafatar dipulangkan ke keluarganya, mereka akan mendapatkan pembinaan dari petugas dinas lintas sektoral. "Pembinaan dilakukan selama tiga hari di rumah perlindungan, selanjutnya selama sepekan dilakukan pendampingan di lingkungan keluarganya," kata Hidayat.

    Selama pendampingan, mereka juga akan diurus soal kependudukannya, pemenuhan kebutuhan hidupnya, termasuk melakukan sosialisasi. Hayat mengimbau, jika para eks anggota Gafatar tersebut sudah berada di lingkungan keluarganya, agar kalangan keluarga dan para tetangganya menerima dan memperlakukan mereka dengan baik.

    Ke-17 jiwa eks Gafatar asal Subang terdiri atas tiga keluarga. Masing-masing 4 orang keluarga Aris asal Subang Kota serta 6 orang keluarga Misdi dan 7 orang lainnya keluarga Mardi asal Kecamatan Cibogo. Misdi mengatakan dia bergabung ke permukiman eks Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat, sejak Agustus 2015.

    Dia bersama enam anggota keluarganya pergi dari kampung halamannya setelah menjual semua harta benda yang dimilikinya. "Di sana saya mengeluarkan uang Rp 25 juta untuk mendapatkan sebuah rumah dan satu hektare lahan pertanian," kata Mardi.

    Ia mengaku berangkat ke Kalimantan untuk mengubah nasib dengan menjadi petani palawija jagung. "Sebelum dipulangkan, kami baru panen jagung," katanya.

    Ketika ditanya soal keterlibatannya dengan Gafatar, Misdi, mengaku tak mengetahuinya secara pasti. Ia hanya mengatakan bahwa kepergian bertransmigrasi ke Kalimantan Barat itu sekonyong-konyong mengikuti program pemerintah.

    Setelah kini berada di Subang, Misdi mengaku pasrah. Sebab, semua harta benda miliknya, termasuk rumahnya sudah tak ada yang tersisa. Semua aset sudah dijual saat akan berangkat.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.