Provinsi Riau Kesulitan Urus Pemulangan Eks-Gafatar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak warga eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) berada dalam bus setelah turun dari KRI Teluk Bone 511 di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, 28 Januari 2016. Setelah itu, pemerintah daerah wajib mengambil para pengungsi yang ditampung, baik di Taman Wiladhatika maupun di Wisma Haji Cibubur. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Seorang anak warga eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) berada dalam bus setelah turun dari KRI Teluk Bone 511 di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, 28 Januari 2016. Setelah itu, pemerintah daerah wajib mengambil para pengungsi yang ditampung, baik di Taman Wiladhatika maupun di Wisma Haji Cibubur. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Dinas Sosial Provinsi Riau kelimpungan mengurus kepulangan mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Riau yang terus bertambah. Persoalan lainnya, kebanyakan mereka menolak dipulangkan ke kampung halaman masing-masing di Riau.

    Kepala Dinas Sosial Riau Syarifudin mengatakan hingga kini tercatat 154 orang eks anggota Gafatar asal Riau telah diinapkan di asrama haji dan asrama Riau di Slipi, Jakarta.

    Jumlah itu jauh dari perkiraan semula yang hanya 13 orang. Diperkirakan jumlahnya bakal terus bertambah menyusul masih ada satu gelombang lagi sebanyak 900 orang dari Kalimantan bakal tiba di Jakarta. "Jumlahnya semakin banyak, bisa jadi mencapai 200 lebih asal Riau," kata Syarifudin, saat dihubungi Tempo, 31 Januari 2016.

    Masalahnya, jumlah pengikut Gafatar asal Riau yang sudah terdata itu tak sebanding dengan petugas dinas sosial yang hanya dua orang, dan dua orang dari Kepolisian Daerah Riau yang kini mengurus mereka di Jakarta.

    Terlebih lagi mereka menolak dipulangkan dengan alasan tidak memiliki tempat tinggal lagi di Riau. Mereka juga khawatir tidak diterima oleh masyarakat di daerah asalnya. "Stigma negatif yang menyebut Gafatar sesat membuat mereka takut untuk pulang," kata Syarifudin.

    Semula kata Syarifudin, pihaknya tidak menduga pengikut Gafatar asal Riau begitu banyak. “Kami kesulitan mengurus kepulangan mereka,” ujarnya. Rencana pemulangan pada Senin, 1 Februari 2016, melalui jalur darat terancam batal karena keterbatasan biaya akomodasi dan pengamanan.

    Menurut Syarifudin, dinas sosial tak punya anggaran banyak untuk biaya pemulangan mereka lewat jalur darat. Selain itu juga dibutuhkan pengamanan yang ekstra ketat bagi pengikut Gafatar selama dalam perjalanan dari Jakarta menuju Riau. Bahkan ada pengikut Gafatar yang mau dipulangkan asal memakai pesawat terbang. "Kami tidak punya anggaran sebanyak itu," katanya.

    Adapun Rumah Persinggahan Trauma Center (RPTC) milik Dinas Sosial Riau juga tak cukup menampung pengikut Gafatar saat tiba di Riau. Dia meminta Dinas Pemuda dan Olahraga Riau turut membantu menyediakan gedung untuk penampungan sementara di Pekanbaru menjelang dipulangkan ke daerah masing-masing. “Saat ini dinas sosial butuh peran Majelis Ulama Indonesia Riau untuk memberikan pemahaman,” ujar Syarifudin.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.