Kementerian Agama Bahas Aset Eks Anggota Gafatar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nasional (Gafatar) mengantri makanan di tempat penampungan sementara Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Selama tiga hari kedepan mereka akan dikarantina guna mendapatkan pendampingan dan pemahaman mengenai deradikalisasi. TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nasional (Gafatar) mengantri makanan di tempat penampungan sementara Youth Centre, Sleman, Yogyakarta, 29 Januari 2016. Selama tiga hari kedepan mereka akan dikarantina guna mendapatkan pendampingan dan pemahaman mengenai deradikalisasi. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kementerian Agama mensinyalir sebagian besar eks anggota Gerakan Fajar Nusantara kini sudah tak memiliki aset lagi di tanah asal mereka. "Dari pemantauan kami saat di Asrama Haji Donohudan, sebagian besar dari mereka mengaku sudah menjual asetnya karena mendapat ganti lebih besar di Kalimantan," ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Machasin ditemui Tempo di Kota Yogyakarta, Ahad, 31 Januari 2016.

    Machasin mengatakan para anggota Gafatar semula memiliki tanah dan rumah rata-rata seluas 100-200 meter persegi sebelum eksodus atas instruksi pimpinan kelompoknya. "Dengan aset tanah hanya seluas itu di Jawa, mereka bisa mendapatkan ganti lahan sampai 10 hektare di Kalimantan, jadi banyak yang ikut," ucapnya.

    Namun kondisinya kini mereka terusir karena Gafatar dianggap sesat dan terlarang oleh Majelis Ulama Indonesia Yogyakarta pascaaksi eksodusnya. Bahkan warga lokal di Kalimantan membakar rumah mereka. 

    "Karena sudah menjual aset dan terusir, satu-satunya alternatif ya mengikutkan program transmigrasi. Ini yang sekarang kami rumuskan bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, agar lebih cepat terlaksana," tuturnya.

    Machasin berujar, para eks anggota Gafatar yang ditampung di Donohudan tak mempan saat didatangkan psikiater atau dengan pendekatan agama langsung. "Yang justru bisa berkomunikasi dengan mereka adalah kalangan penyuluh. Setiap hari kami datangkan 30 penyuluh ke sana untuk pendampingan," katanya.

    Kasus banyaknya warga yang bergabung dengan kelompok itu, menurut Machasin, menjadi evaluasi ketat bagi pemerintah dalam menyikapi gampang percayanya warga pada nilai-nilai luar yang menjerumuskan pemahaman kepercayaan secara benar.

    Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Yogyakarta Hadi Mochtar menuturkan, dari informasi terakhir, program transmigrasi eks anggota Gafatar yang tak punya rumah memang tengah dirembuk secara intens dengan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. "Setelah pendampingan di Youth Center, Sleman, sampai Selasa, 2 Februari 2016, bagi yang tak punya aset rencananya langsung diikutkan program transmigrasi," ucapnya.

    PRIBADI WICAKSONO 


    Ratusan Eks Gafatar Tiba di Yogyakarta oleh tempovideochannel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.