Anggota Gafatar Tidak Boleh Merokok dan Mengkonsumsi Vetsin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eks pengikut Gafatar tiba di ruang kedatangan penumpang pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, 27 Januari 2016. Sebanyak 227 eks pengikut Gafatar yang berasal dari Sulawesi Selatan terdiri dari 69 kepala keluarga dipulangkan dan dikembalikan ke keluarga masing-masing. TEMPO/Fahmi Ali

    Eks pengikut Gafatar tiba di ruang kedatangan penumpang pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, 27 Januari 2016. Sebanyak 227 eks pengikut Gafatar yang berasal dari Sulawesi Selatan terdiri dari 69 kepala keluarga dipulangkan dan dikembalikan ke keluarga masing-masing. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Depok - Bekas Ketua DPD Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Bengkulu, Andi Pratama, mengungkapkan anggota Gafatar tidak merokok dan mengkonsumsi vetsin atau penyedap rasa. Alasannya, rokok dan vetsin atau MSG merupakan zat yang dianggap berbahaya bagi mereka.

    "Rokok dan mecin (vetsin) berbahaya. Bahkan kandungannya harus dikurangkan atau bahkan dihilangkan di dalam tubuh," kata Andi di tempat penampungan sementara eks anggota Gafatar di Taman Wiladatika Cibubur, Depok, Kamis, 28 Januari 2016.

    Menurut dia, anggota Gafatar sejak awal diajarkan mencintai diri sendiri. Dengan tidak merokok dan mengkonsumsi vetsin, artinya anggota sudah menyayangi tubuh mereka. "Rokok dan mecin memang tidak dianjurkan sehingga tidak ada yang menghisap rokok dan mengkonsumsi mecin. Penggunaan garam saja kami batasi," ujarnya.

    Anggota Gafatar di Kalimantan Barat hidup dari bertani. Bahkan lahan gambut yang sulit ditanami dapat disulap menjadi lahan pertanian yang subur di Kalimantan. Ia mengaku ada persepsi yang salah disematkan kepada eks anggota Gafatar.

    Pemerintah, kata dia, wajib mengembalikan nama baik eks anggota Gafatar karena di Kalimantan mereka hanya bertani. "Justru kami berhasil mengolah pertanian di Kalimantan," kata Andi Pratama.

    Saat eks anggota Gafatar diungsikan secara paksa oleh pemerintah, banyak lahan pertanian yang sudah siap panen. Salah satunya lahan pertanian milik kelompoknya. "Ada sekitar empat hektare sawah mau kami panen. Kami berhasil mengolah lahan di sana," ujarnya.

    Bahkan Gafatar mempunyai program satu anggota mengolah satu hektar lahan pertanian. Sebagian hasil panen juga akan diberikan kepada warga setempat. "Bahkan hak hewan saja kami berikan atas hasil panen. Apa yang salah dari kami?" ujarnya.

    Saat ini, setiap eks anggota Gafatar sedang berusaha menginventarisasi harta benda yang mereka tinggalkan di Kalimantan. Menurut Andi, pemerintah wajib mengganti harta benda dan lahan yang mereka tinggali. Alasannya, anggota Gafatar sudah ada yang membeli lahan di Kalimantan dengan duit sendiri.

    "Kami bahkan sudah bangun rumah menghabiskan Rp 158 juta di Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Bahkan ada mobil pick up untuk mengangkut sayuran di tempat kami tinggal," ujarnya.

    IMAM HAMDI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.