Indonesia Pantau Perkembangan Virus Zika di Brasil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas melakukan penyemprotan obat guna membasmi jentik nyamuk Aedes Aegpty yang menyebarkan virus Zika di Buenos Aires, Argentina, 27 Januari 2016. Diketahui ribuan ibu hamil melahirkan anak cacat karena terjangkit virus Zika. (AP Photo)

    Seorang petugas melakukan penyemprotan obat guna membasmi jentik nyamuk Aedes Aegpty yang menyebarkan virus Zika di Buenos Aires, Argentina, 27 Januari 2016. Diketahui ribuan ibu hamil melahirkan anak cacat karena terjangkit virus Zika. (AP Photo)

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan pemerintah Indonesia, melalui Kedutaan Besar RI di Brasil, terus memantau perkembangan virus Zika di negara tersebut.

    "Kita memantau dari dekat perkembangannya dan hingga saat ini belum ada laporan WNI kita yang menjadi korban," kata Arrmanatha Nasir di kantor Kementerian Luar Negeri di Pejambon, Jakarta, Kamis.

    Menurut jubir Kemlu, hingga kini pemerintah belum mengeluarkan imbauan apa pun terkait dengan perjalanan ke luar negeri, terutama ke Brasil dan negara-negara Amerika Selatan lainnya.

    "Laporan dari KBRI akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya," katanya.

    Virus Zika dikaitkan dengan kerusakan otak ribuan bayi di Brasil. Belum ada vaksin atau pengobatan untuk Zika, yang masih merupakan "kerabat dekat" penyakit demam berdarah dan chikungunya, yang menimbulkan demam serta ruam kulit.

    Pada Senin, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan virus itu akan menyebar ke semua negara di seluruh Amerika, kecuali Kanada dan Cile.

    Dalam laporan WHO disebutkan, penyakit tersebut menyebar dengan cepat hingga ke 21 negara dan wilayah di kawasan itu sejak Mei 2015 karena rendahnya kekebalan tubuh di antara warga terhadap gigitan nyamuk Aedes Aegypti, yang membawa virus Zika.

    Kementerian Kesehatan Brasil pada November 2015 memastikan virus Zika menyebabkan cacat janin, yang dikenal dengan mikrosefali, yakni bayi dilahirkan dengan ukuran otak lebih kecil.

    Brasil melaporkan 3.893 kejadian diduga mikrosefali, kata WHO, pada Jumat, dengan 30 kali lebih dari yang dilaporkan setiap tahun sejak 2010.



    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.