Hadapi Virus Zika, Menkes Imbau Masyarakat Hidupkan Lagi 3M

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek berbicara pada Sidang World Health Assembly (WHA) ke-68 di Kantor PBB Jenewa, Swiss, 19 Mei 2015. Foto DokKementrian Luar Negeri

    Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek berbicara pada Sidang World Health Assembly (WHA) ke-68 di Kantor PBB Jenewa, Swiss, 19 Mei 2015. Foto DokKementrian Luar Negeri

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengharapkan masyarakat kembali menggiatkan gerakan hidup bersih menghadapi ancaman virus Zika. "Adanya virus Zika yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti mengingatkan kita untuk kembali menggalakkan gerakan hidup bersih, terutama 3M untuk memberantas nyamuk," kata Nila kepada Tempo, Kamis, 28 Januari 2016,  merujuk pada kegiatan pencegahan demam berdarah.

    Kegiatan 3M atau menguras bak-bak mandi, menutup genangan air dan menguburkan benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk menjadi kegiatan andalan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti, penyebab demam berdarah.

    Nyamuk yang sama juga menjadi vektor atau pembawa virus Zika. Virus yang diduga menyebabkan kelainan microchepaly atau kelainan otak pada bayi tersebut kini mengundang perhatian. Berawal dari Brasil yang menemukan ratusan kasus microchepaly pada bayi yang terkait dengan virus Zika.

    Sebanyak 24 negara di benua Amerika menyatakan menemukan kasus virus Zika di wilayah.  Kekhawatiran akan dampak virus Zika terhadap wanita hamil juga menyebabkan sejumlah negara mengeluarkan larangan bepergian ke wilayah dimana ditemukan virus itu.  Presiden Brasil Dilma Rousseff segera mengumumkan perang melawan nyamuk dan mengerahkan 220 ribu tentara untuk membantu membasminya.

    Menurut Menkes, keterkaitan antara virus Zika dengan microchepaly masih diteliti para ahli. Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan terdapat sejumlah kasus virus Zika. Pertama kali ditemukan kasus pada 1977 dan 1978 di Rumah Sakit Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah.

    Tujuh penderita dilaporkan mengalami gejala diare, konstipasi, nyeri lambung, pusing dan anoreksia. Temuan lain pada 1983 di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Enam dari 71 sampel serologis di wilayah itu menunjukkan adanya netralisasi terhadap virus Zika.

    Pada  2012, infeksi Zika kembali dilaporkan dari Indonesia. Seorang perempuan Australia berusia 52 tahun dilaporkan mengalami tidak enak badan dan ruam setelah berlibur selama sembilan hari ke Jakarta, Indonesia.

    Setibanya di Australia, perempuan tersebut mengalami kelelahan, tidak enak enak badan dan sakit kepala. Empat hari setelah gejala, muncul  ruam yang diikuti dengan nyeri otot . Hasil analisis laboratorium menunjukkan pasien tersebut positif terinfeksi virus Zika.

    Virus yang berhasil diisolasi menunjukkan kekerabatan yang dekat dengan Zika yang dilaporkan sebelumnya bersirkulasi di kawasan Micronesia pada 2007. Terakhir, pada 2015, Lembaga biologi Molekuler Eijkman juga melaporkan adanya kasus terkonfirmasi virus Zika di Indonesia. Virus ini ditemukan saat terjadi wabah demam dengue di Provinsi Jambi, pada periode Desember 2014 sampai April 2015.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.