Penangkapan Terduga Teroris di Luwu Resahkan Orang Tua Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Ahmad Subaidi

    ANTARA/Ahmad Subaidi

    TEMPO.CO, Malang - Sepasang orang tua asal sebuah dusun di Kabupaten Malang, Jawa Timur, berharap klarifikasi atas informasi terduga teroris yang ditangkap di Luwu, Sulawesi Selatan, pada Senin malam, 26 Januari 2015 lalu. Keduanya, Suyitno dan Ngatemi, menegaskan bahwa satu diantara dua terduga itu yang disebutkan sebagai Ahwy alias Harun bukan anak mereka.

    “Saya, istri dan keluarga di sini tidak bisa tenang sejak ada berita putra kami ditangkap Densus 88,” kata Suyitno, ketika ditemui di rumahnya, Kamis siang, 28 Januari 2016. Dia menambahkan, “Isu terorisme sangat gawat karena bukan lagi hanya hanya isu nasional, tapi sudah jadi isu internasional dan anak kami disebut-sebut.”

    Suyitno menunjuk nama putra sulungnya, Yayan alias Ardie alias Awie, 25 tahun, yang menurutnya, sempat disebutkan kepolisian setempat. Pun dengan alamat rumahnya itu di Dusun Gobet, Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

    Dia menyatakan kalau nama dan alamat itu pernah diberitakan. Isi beritanya cukup mengerikan, yakni yang bersangkutan diduga buronan kasus terorisma jaringan Poso dan terlibat dalam pembunuhan dua polisi pada Oktober 2012 lalu.

    “Benar nama anak saya dan alamatnya benar alamat rumah saya. Tapi, foto terduga teroris itu sama sekali tidak sama,” kata Suyitno yang diikuti sang istri dengan mengangguk-angguk.

    Suyitno menjelaskan, Awie bekerja sebagai teknisi sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Timur. Awie yang kini bertempat tinggal di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, itu memang pernah kehilangan dompet pada 2014. Isinya diantaranya KTP.

    “Tapi sudah punya KTP baru. Saya yang uruskan di sini,” katanya sambil menambahkan telah berkomunikasi dengan Awie pada Rabu malam 27 Januari 2016. Pada hari yang sama Ahwy alias Harun, si terduga teroris yang sungguhan, telah diterbangkan oleh Densus Antiteror dari Luwu ke Jakarta.

    “Saya mohon ada klarifikasi dari aparat berwenang, entah itu Pak Kapolri, dan pemberitaan yang betul mengenai anak saya agar nama baik keluarga kami bersih” kata Suyitno.
     
    ABDI PURMONO | TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.