Doni Ternyata Bukan Korban Tewas Kapal Tenggelam di Johor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memindahkan jenazah korban kapal pancung yang tenggelam di Johor, Malaysia (4/8). Sampai saat ini 37 korban yang sebagian besar WNI belum ditemukan. REUTERS/Malaysian Maritime Enforcement Agency

    Petugas memindahkan jenazah korban kapal pancung yang tenggelam di Johor, Malaysia (4/8). Sampai saat ini 37 korban yang sebagian besar WNI belum ditemukan. REUTERS/Malaysian Maritime Enforcement Agency

    TEMPO.CO, Kediri – Misteri nama Doni pada korban kecelakaan kapal pengangkut warga negara Indonesia (WNI) yang tenggelam di perairan Bandar Penawar, Johor Selatan, Malaysia, pada Selasa lalu, mulai menemukan titik terang. Berdasarkan penelusuran Tempo di Desa Margourip, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Kamis, 28 Januari 2016, Doni ternyata masih hidup.

    Doni Indra Cahyono, nama lengkap siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Margourip III itu, sempat takut saat Tempo mendatangi rumah neneknya, Boini, 60 tahun. Boini yang bekerja sebagai penjual kopi di warung, juga bingung saat ditanya tentang keadaan anaknya, Aminah, 36 tahun, ibu Doni. Aminah diketahui merantau ke Malaysia.

    Menurut Boini, petugas kecamatan maupun anggota komando rayon militer telah mendatangi rumahnya untuk melihat Doni. Anggota koramil tersebut, kata Boini, juga memotret wajah Doni. “Ini sebenarnya ada apa,” kata perempuan lugu itu.

    Boini mengaku Aminah berangkat ke Malaysia sejak Agustus 2015. Kata Boini, ini sudah ketiga kalinya Aminah pulang-pergi Indonesia-Malaysia sejak dia bekerja sebagai penjaga kantin di negeri jiran. Boini tidak mengetahui perusahaan pengerah tenaga kerja yang memberangkatkan Aminah.

    Oleh Aminah, Boini dititipi merawat Doni yang tinggal bersama ayahnya, Mujito. Rumah Boini dan Mujito bersebelahan. Sehari-hari Mujito bekerja sebagai kuli angkut pupuk kompos milik seorang pedagang.

    Sejak Aminah pergi pada Agustus tahun lalu, Boini tak pernah berkomunikasi. Padahal sebelum-sebelumnya Aminah rajin menelepon suami dan dua anaknya yang masing-masing dibelikan telepon seluler. “Sejak berangkat kemarin sampai sekarang tidak ada kabar, padahal biasanya seminggu beberapa kali telepon,” kata Boini.

    Doni mengaku takut diperiksa aparat Kepolisian Sektor Ngancar dan Koramil Ngancar. Bocah bertubuh ceking berkulit sawo matang ini mengaku aktif mengikuti kegiatan Pramuka di sekolahnya. “Kartu Pramuka saya dibawa ibu saat berangkat ke Malaysia kemarin,” katanya.

    Doni tak tahu alasannya mengapa ibunya membawa kartu anggota Pramuka miliknya. Boini maupun Doni berujar belum mendengar kabar kecelakaan kapal yang menewaskan 13 WNI di Johor. Mereka yakin Aminah tidak termasuk dalam korban yang tewas.

    Ketua RT 04 RW 01 Desa Margourip, Ngancar, Sumardi, belum menerima kabar apa-apa soal Aminah. Dia baru mendengar tentang kecelakaan kapal tersebut dari anggota koramil yang mendatangi rumah Boini. “Semoga tidak ada apa-apa dengan Aminah," ucapnya.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.