Sulsel Rawan Jadi Tempat Persembunyian Teroris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terduga teroris jaringan Poso berinisial A alias Harum (kiri) dan C alias Fatahilla (dua kanan) dikawal ketat polisi saat memasuki Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, 26 Januari 2016. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    Terduga teroris jaringan Poso berinisial A alias Harum (kiri) dan C alias Fatahilla (dua kanan) dikawal ketat polisi saat memasuki Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, 26 Januari 2016. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.COMakassar - Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat rawan menjadi tempat pelarian dan persembunyian teroris. Terutama setelah gencarnya Operasi Tinombala untuk menumpas teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 

    Situasi itu membuat kelompok teroris pimpinan Santoso diduga berpencar dan kabur ke daerah-daerah perbatasan untuk bersembunyi. Penangkapan dua terduga teroris di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi bukti adanya pelarian teroris Poso ke Sulawesi Selatan. 

    Juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, mengatakan wilayah hukumnya rawan menjadi tempat persembunyian teroris karena secara geografis berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah. 

    "Itu sudah kami antisipasi dengan mempertebal pengamanan di daerah-daerah yang dianggap rawan. Terduga teroris yang ditangkap di Luwu itu rembesan Operasi Tinombala," kata Barung, kepada Tempo, Rabu, 27 Januari 2016. 

    Penangkapan terduga teroris di Luwu, menurut Barung, membuktikan deteksi dini yang digencarkan kepolisian berjalan optimal. Peningkatan pengamanan mulai digelar pascabom Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016. 

    Khusus di wilayah hukum Sulawesi Selatan, terdapat lima daerah yang pengamanannya diperketat. Perinciannya, tiga daerah di Sulawesi Selatan, yakni Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. Sisanya, ada dua daerah di Sulawesi Barat, yakni Mamuju Utara dan Mamasa. 

    Pengamanan mengantisipasi masuknya teroris Poso, menurut Barung, tidak sekadar dengan mempertebal pasukan melalui operasi cipta kondisi dan patroli. Kepolisian mengintensifkan pendekatan terhadap masyarakat agar segala potensi ancaman sekecil apa pun segera dilaporkan. Penangkapan terduga teroris di Luwu, menurut dia, bermula dari informasi masyarakat mengenai kecurigaan adanya pendatang yang tidak melapor. 

    Kepala Kepolisian Resor Luwu Ajun Komisaris Besar Adex Yudiswan menyatakan sistem keamanan berupa deteksi dini diutamakan mengantisipasi masuknya jaringan teroris di daerahnya. Sistem itu terbukti efektif. 

    Kepolisian memperoleh informasi mengenai adanya orang asing yang menumpang di rumah warga di daerah perkotaan Luwu. Setelah berkoordinasi dengan Detasemen Khusus 88 Anti-Teror, pihaknya langsung melakukan penangkapan, Senin, 25 Januari, pukul 18.54 Wita. 

    Kedua terduga teroris itu adalah Chandra Jaya alias Fatahillah, eks simpatisan salah satu organisasi massa, dan Ahwy alias Harun, buron kasus terorisme. Mereka ditangkap sesaat setelah menunaikan ibadah salat Magrib. 

    Adex mendampingi langsung kedua terduga teroris itu dari Luwu ke Makassar, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta, Selasa, 26 Januari. Harun diduga kuat terlibat dalam pembunuhan dua polisi, Brigadir Satu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman di Tamanjeka, Poso Pesisir, pada Oktober 2012. Adapun Fatahillah dicokok karena memfasilitasi persembunyian Harun yang merupakan buron kasus terorisme. 

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.