Kapal Tenggelam di Malaysia, Korban Asal Kediri Sulit Dilacak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kapal tenggelam

    Ilustrasi kapal tenggelam

    TEMPO.CO, Kediri - Pemerintah Kabupaten Kediri kesulitan melacak Doni, 12 tahun, warganya yang diduga salah satu korban tewas tenggelamnya kapal di perairan laut pantai Kelise, Sungai Tengah, Bandar Penawar Kota Tinggi, Johor, Malaysia. Selain korban tak memiliki kartu tanda penduduk, pemerintah juga tidak memantau aktivitas buruh migran ilegal.

    Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Haris Setiawan mengatakan Dinas Tenaga Kerja belum mendengar informasi soal warganya dalam kecelakaan kapal itu. “Kalau benar pasti ada pemberitahuan dari Dinas Tenaga Kerja provinsi,” kata Haris kepada Tempo di kantor Kabupaten Kediri, Rabu, 27 Januari 2016.

    Kedutaan Besar RI untuk Malaysia menyatakan 13 WNI tewas akibat kecelakaan kapal di perairan Johor, Malaysia. Kapal nahas itu diduga berasal dari perairan Indonesia dan masuk ke wilayah Malaysia secara ilegal. Kapal diduga mengangkut 35 orang saat diterjang ombak setinggi 3 meter hingga terbalik. Saat ini, 13 jenasah WNI masih berada di Rumah Sakit Sultan Ismail Johor Baru. (Baca berita terkait: Kemenlu Benarkan Temuan 13 Mayat di Perairan Malaysia)

    Haris mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri yang melacak keberadaan warganya itu. Namun minimnya informasi tentang identitas 13 WNI menjadi kendala pelacakan. Apalagi Doni masih di bawah umur dan tidak memiliki kartu tanda penduduk. Hasil identifikasi kepolisian Malaysia hanya menyebut korban membawa Kartu Pramuka dengan keterangan Kediri.

    Keberadaan Doni dalam rombongan yang diduga tenaga kerja Indonesia ilegal ini mengundang pertanyaan. Dengan usia yang masih di bawah umur, patut diduga ia berangkat ke Malaysia menyusul orang tuanya yang telah bekerja di sana. Selain Doni, tak ada korban lain dari 13 penumpang WNI yang beralamat di Kediri. “Sulitnya lagi, mereka berangkat melalui jalur ilegal yang tidak kami pantau,” kata Haris.

    Insiden ini sekaligus membuka fakta masih banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri melalui jalur ilegal. Ini lantaran prosedur formal dianggap menyulitkan, di antaranya proses pelatihan dan usia minimal yang kerap menjadi ganjalan bagi calon tenaga kerja.

    Upaya melacak identitas korban kapal di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri juga tak banyak membuahkan hasil. Sejumlah staf mengaku tak mengetahui peristiwa itu dan menolak memberikan keterangan. “Bapak sedang dinas luar,” kata pegawai perempuan saat Tempo hendak menemui Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Sigit Rahardja.



    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.