Tersangka Perekrut Dokter Rica Bungkam Soal Gafatar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membawa wanita berinisal V (tengah)  yang diduga perekrut dr. Rica setibanya di Polda Yogyakarta, 11 Januari 2015. Gafatar diperbincangkan setelah dikaitkan dengan hilangnya dokter Rica Tri Handayani di Yogyakarta sejak 30 Desember 2015. Dokter muda tersebut akhirnya ditemukan polisi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan dibawa kembali ke Yogyakarta pada Senin, 11 Januari 2016. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Petugas membawa wanita berinisal V (tengah) yang diduga perekrut dr. Rica setibanya di Polda Yogyakarta, 11 Januari 2015. Gafatar diperbincangkan setelah dikaitkan dengan hilangnya dokter Rica Tri Handayani di Yogyakarta sejak 30 Desember 2015. Dokter muda tersebut akhirnya ditemukan polisi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan dibawa kembali ke Yogyakarta pada Senin, 11 Januari 2016. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Sleman - Dua tersangka perikrut dokter Rica Tri Handayani yang ikut eksodus ke Kalimantan Barat masih bungkam soal Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Namun, dari temuan polisi di kamp-kamp mereka ada buku-buku yang mengarah ke ideologi yang mereka anut.

    Dua tersangka perekrut Rica adalah Eko Purnomo dan Veni Orinanda. Pasangan suami istri itu merupakan sepupu dokter cantik asal Lampung itu. Mereka diketahui pernah aktif di organisasi Gafatar.

    "Ada beberapa buku terkait ajaran Mesiah, Millah Abraham. Silakan saudara cari informasi itu. Kami sama, juga mencarari," kata Komisaris Besar Hudit Wahyudi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 26 Januari 2016.

    Namun, secara logika, mereka yang ikut eksodus itu membentuk kelompok di kamp-kamp mereka di Kalimantan. Mengapa jika mereka hanya ingin bertani tetapi membentuk suatu kelompok yang secara eksklusif tidak berbaur dengan masyarakat.

    "Itulah yang harus dipahami, tetapi itu belum merupakan tindakan hukum, kalau mereka kembali ke keyakinan awal itu yang diharapkan," kata Hudit.

    Soal data-data yang ditemukan di komputer jinjing dan flashdisk milik tersangka, polisi belum mau mengungkapkan. Padahal diduga dalam penyimpanan data itu ada struktur organisasi yang mengarah ke pembentukan negara baru.

    Bahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti sudah menyatakan, gerakan itu akan mendirikan negara baru. Polisi terus melakukan penyelidikan dalam hal gerakan ini.

    Yang perlu diwaspadai, kata Hudit, mengapa mereka berada dalam suatu kelompok dan membentuk komunitas tersendiri. Juga ada Kartu Keluarga Gafatar.

    "Mereka murni bertani atau hanya kedok saja. Jawabannya nanti kalau penyelidikan sudah selesai. Masih dalam penyelidikan, kita tunggu tanggal mainnya," kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.