Eks Anggota Gafatar Sudah Tiba di Malang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak dari keluarga Eks Gafatar bermain di Pelabuhan Penumpang Tanjung Emas, Semarang sambil menunggu bus yang mengantarkan mereka ke Asrama Haji Donohudan, 25 Januari 2016. TEMPO/Budi Purwanto

    Seorang anak dari keluarga Eks Gafatar bermain di Pelabuhan Penumpang Tanjung Emas, Semarang sambil menunggu bus yang mengantarkan mereka ke Asrama Haji Donohudan, 25 Januari 2016. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Malang - Sebanyak 17 bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sudah tiba di Kabupaten Malang pada Senin malam, 25 Januari 2016.

    Mereka dipindahkan dari Asrama Transito di Surabaya ke gedung Unit Pelaksana Teknis Loka Bina Karya Dinas Sosial Kabupaten Malang di Desa Banjarejo, Kecamatan Pakis. Di dalam gedung berkapasitas 40 orang itu, mereka akan ditampung selama tiga hari sebelum dikembalikan ke desa masing-masing.

    Kepala Dinas Sosial Kabupaten Malang Sri Wahjuni Pudji Lestari mengatakan mereka diangkut menggunakan dua bus dan tiba di Malang sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka terdiri atas 6 pria dewasa, 4 perempuan dewasa, dan 7 bocah.

    “Saat tiba, seorang dewasa serta dua anak dalam kondisi flu dan diare. Mungkin karena tak cocok makanannya. Sekarang sudah ditangani tim medis,” ucap Sri, Senin malam.

    Menurut Sri, selama di penampungan, para bekas anggota Gafatar akan dibekali penyuluhan agama dan wawasan kebangsaan yang melibatkan Majelis Ulama Indonesia serta aparat TNI dan Polri. Lembaga Konseling Kesejahteraan Keluarga (LK3) Dinas Sosial Kabupaten Malang pun dilibatkan untuk menangani masalah psikologis mereka.

    “Kami belum memikirkan skenario pemulangan mereka. Yang kami pikirkan lebih dulu adalah soal pembekalan keagamaan dan ideologi nasionalisme serta penanganan aspek psikologis,” ujarnya.

    Meski belum memikirkan cara memulangkan mereka ke desa masing-masing, terutama untuk mengantisipasi penolakan warga setempat, Sri memastikan Pemerintah Kabupaten Malang menjamin semua kebutuhan hidup mereka.

    Setelah itu, pemerintah daerah setempat akan memberdayakan perekonomian mereka. Ternyata, menurut Sri, sebagian dari mereka sudah telanjur menjual sawah dan ladang milikinya di Malang untuk bekal hidup di Kalimantan.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?