Aher Merehabilitasi Eks Anggota Gafatar di Panti Sosial

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain di tempat penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Panti Sosial Bina Insan Cipayung, Jakarta, 24 Januari 2016. Sebanyak 114 eks-anggota Gafatar yang terdiri dari 53 orang dewasa dan 61 anak-anak ditampung di panti tersebut. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Anak-anak bermain di tempat penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Panti Sosial Bina Insan Cipayung, Jakarta, 24 Januari 2016. Sebanyak 114 eks-anggota Gafatar yang terdiri dari 53 orang dewasa dan 61 anak-anak ditampung di panti tersebut. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.COBandung - Gubernur Ahmad Heryawan mengatakan sebagian besar warga eks anggota Gafatar asal Jawa Barat sudah tiba di Jakarta. “Total 400-an orang, tapi yang baru datang di Jakarta baru seratusan,” katanya di Bandung, Minggu, 24 Januari 2016.

    Aher, sapaan Ahmad Heryawan, mengatakan pemerintah provinsi akan menangani warga eks anggota Gafatar asal Jawa Barat. “Kategori pertama bisa pulang ke rumah dan bisa diterima keluarga akan kami lakukan (pemulangan), tentu setelah ada pembinaan,” ujarnya.

    Untuk kategori selanjutnya, dia mengakui, proses penanganannya relatif rumit. Kategori dua, misalnya, warga eks anggota Gafatar tidak bersedia kembali ke kampung halamannya. “Ini agak lama karena ada indikasi keluarganya tidak mau menerima dan mereka enggan pulang ke rumah,” ucapnya.

    Aher mengatakan pemerintah provinsi akan menempatkan kelompok ini di panti sosial untuk menjalani rehabilitasi. “Kami akan berkomunikasi dengan keluarganya untuk menerima supaya ketika siap, pemahaman agamanya sudah lurus, kejiwaan sudah tenang kembali, keluarga mau menerima. Kami akan serahkan kepada keluarganya,” katanya.

    Untuk kategori terakhir, masalahnya berbeda lagi. Warga eks anggota Gafatar pada kelompok ini, kendati berasal dari Jawa Barat, sudah menetap di Kalimantan Barat tapi ikut dipulangkan lewat Jakarta. “Sudah ada yang ber-KTP Kalimantan Barat, sudah nyoblos di pilkada segala macam, mereka sudah penduduk di sana, sudah punya sawah. Kami akan perlakukan lain,” katanya.

    Aher mengatakan akan membahas soal ini dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah tempat asalnya di Kalimantan Barat. “Boleh jadi ada kebijakan lain di sananya. Sebab, kalau sudah menjadi penduduk setempat, tinggal dibina di sana. Kan sudah punya rumah di sana, cari nafkah di sana,” tuturnya.

    Pemerintah provinsi menunggu keputusan resmi pemerintah pusat soal organisasi Gafatar. “Tentu dari yang diberitakan dengan pemahaman seperti itu, sedangkan kami mengatakan menyimpang dari ajaran yang benar karena ada nabi baru dan lain-lain. Tapi keputusan resminya diserahkan kepada MUI, pada lembaga berwenang,” ujarnya.

    Dalam rilis Pemerintah Provinsi Jawa Barat, diperkirakan sekitar 450 orang eks anggota Gafatar asal Jawa Barat akan dipulangkan. Sejumlah panti sosial milik provinsi dipersiapkan untuk menampung warga tersebut, di antaranya di Cirebon, Lembang, Kota Bandung, serta Cimahi. Gelombang pertama, misalnya, ada 97 orang eks anggota Gafatar yang dipulangkan menggunakan KRI Teluk Amboina menuju Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Jawa Tengah.

    Warga asal Jawa Barat itu berasal dari Tasikmalaya, Depok, Bogor, Cirebon, Banten, Bekasi, Kuningan, Garut, dan Bandung. Pada kloter pertama itu, yang terbanyak berasal dari Bogor, yakni 39 orang, disusul Tasikmalaya 13 orang, Cirebon 12 orang, Bekasi 11 orang, Depok 6 orang, Banten 4 orang, serta Kuningan, Garut, dan Kota Bandung masing-masing 4 orang.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.