Kasus Suap Damayanti, KPK Geledah 3 Lokasi di Ambon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota DPR RI Komisi V Fraksi PDIP, Damayanti Wisnu Putranti usai menjalani pemeriksaan berjalan keluar Gedung KPK, Jakarta, 18 Januari 2016. Diduga sebagai penerima suap Damayanti dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 Huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 Kuhap. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Anggota DPR RI Komisi V Fraksi PDIP, Damayanti Wisnu Putranti usai menjalani pemeriksaan berjalan keluar Gedung KPK, Jakarta, 18 Januari 2016. Diduga sebagai penerima suap Damayanti dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 Huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 Kuhap. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah tiga lokasi di Ambon, Maluku, terkait dengan penyidikan kasus dugaan suap proyek pembangunan jalan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. "Penggeledahan sejak pukul 11.00 dan hingga kini masih berlangsung," kata pelaksana harian Kepala Hubungan Masyarakat KPK Yuyuk Andriati Iskak di kantornya, Jumat, 22 Januari 2016.

    Lokasi penggeledahan adalah di kediaman Komisaris PT Cahaya Mas Perkara So Kok Seng alias Aseng di Jalan WR Supratman, Ambon. Kedua, penggeledahan di kantor PT Cahaya Mas Perkasa di Jalan Diponegoro, Ambon. Ketiga, di gedung kantor Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional 9, Ambon.

    Saat ditanya kaitan Aseng dengan kasus suap terhadap anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Damayanti Wisnu Putranti, Yuyuk enggan menjelaskan secara detail. "Nanti akan dijelaskan ketika saksi-saksi sudah diperiksa," ujarnya. 
    Selain menggeledah kantor dan rumah, penyidik KPK mencegah Aseng bepergian ke luar negeri.

    KPK resmi menetapkan Damayanti Wisnu Putranti sebagai tersangka penerima suap dari Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir pada Kamis, 14 Januari 2016. Damayanti diduga mengamankan proyek jalan di Maluku yang masuk dalam anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2016.

    KPK juga menetapkan dua staf Damayanti sebagai tersangka penerima suap, yakni Julia Prasetyarini alias Uwi dan Dessy A. Edwin. Adapun Abdul Khoir disangka sebagai pemberi suap.

    Keempat tersangka itu merupakan hasil operasi tangkap tangan tim satuan tugas KPK. Ada enam orang yang dicokok pada Rabu malam, 13 Januari 2016, di tempat yang berbeda. Dua orang sisanya merupakan sopir yang kini dibebaskan. Duit yang diamankan saat operasi sebesar SGD 99 ribu. Namun total duit yang telah dikucurkan Abdul sebesar SGD 404 ribu. Untuk mengembangkan kasus ini, KPK membuka penyelidikan baru.

    LINDA TRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.