Pamit Bekerja di Kebun Sawit, Pemuda Ini Gabung Gafatar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi wanita mencatat data warga eks-Gafatar asal Kabupaten Sambas yang tiba di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura, Pontianak, Kalimantan Barat, 21 Januari 2016. Pemerintah mengevakuasi warga eks-Gafatar dari Kabupaten Mempawah, Singkawang, Sambas, Bengkayang, Ketapang, Kayong Utara serta Kapuas Hulu ke Pontianak, yang nantinya akan dipulangkan ke daerah asal dengan menggunakan tiga kapal perang TNI AL. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    Polisi wanita mencatat data warga eks-Gafatar asal Kabupaten Sambas yang tiba di tempat penampungan di Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam XII/Tanjung Pura, Pontianak, Kalimantan Barat, 21 Januari 2016. Pemerintah mengevakuasi warga eks-Gafatar dari Kabupaten Mempawah, Singkawang, Sambas, Bengkayang, Ketapang, Kayong Utara serta Kapuas Hulu ke Pontianak, yang nantinya akan dipulangkan ke daerah asal dengan menggunakan tiga kapal perang TNI AL. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.COPekanbaru - Warga Jalan Paus, Kelurahan Wonorejo, Pekanbaru, Murniati, 43 tahun, membuat laporan ke Kepolisian Sektor Bukitraya setelah mengetahui anaknya, David Zarkasih, 23 tahun, telah bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kalimantan. David meninggalkan rumah sejak 14 Agustus 2015 dengan alasan bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit. 

    "Sudah tiga bulan belakangan tidak ada kabar,” kata Murniati, Jumat, 22 Januari 2016.

    Murni menceritakan, sejak keberangkatan David ke Kalimantan, tidak ada hal mencurigakan terlihat dari diri anaknya. Ketika itu, kata dia, David berpamitan ingin bekerja di perusahaan kelapa sawit PT Nusantara di Kalimantan. Pada tiga bulan awal komunikasi Murniati dan anaknya berlangsung lancar. David menceritakan soal pekerjaannya di perusahaan sawit.

    “Tidak pernah bicara soal Gafatar,” ujarnya.

    Namun tiga bulan belakangan komunikasi mereka terputus. Belakangan Murniati mengetahui anaknya bergabung dengan Gafatar. Seorang wartawan media televisi memberitahukan David tengah bersama rombongan eks anggota Gafatar lain yang akan dipulangkan oleh pemerintah dari Menpawah, Kalimantan Barat.

    Murniati dan David akhirnya bisa berkomunikasi kembali sekitar pukul 12.00, Jumat, 22 Januari 2016. Kepada ibunya, David mengaku tak mau pulang ke Pekanbaru. “Katanya betah kerja di sana,” kata Murniati.

    Murniati pun membuat laporan ke kepolisian. Ia berharap pemerintah dapat memulangkan anaknya kembali ke Pekanbaru. “Saya harap anak saya segera pulang,” ujarnya dengan raut muka sedih.

    Kepala Kepolisian Sektor Bukitraya Komisaris Ricky Ricardo mengaku telah menerima laporan anak hilang yang bergabung dengan Gafatar. “Kami akan berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Riau dan Polda Kalimantan Barat agar David bisa dipulangkan ke Pekanbaru,” katanya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?