Peneliti Senior LIPI: Teror Bom Thamrin Tidak Direkayasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto detik-detik penembakan polisi di Jalan Thamrin, Jakarta saat mengamankan ledakan bom Sarinah. Terduga pelaku dalam lingkaran merah. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Foto detik-detik penembakan polisi di Jalan Thamrin, Jakarta saat mengamankan ledakan bom Sarinah. Terduga pelaku dalam lingkaran merah. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Profesor Riset Bidang Perkembangan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo, mengatakan teror bom Thamrin, Jakarta, yang terjadi Kamis pekan lalu tidak direkayasa. Ia juga menyebutkan petugas keamanan tidak kecolongan saat itu. "Peristiwa bom Thamrin itu tidak direkayasa dan tidak benar disebut kecolongan," katanya di Widya Graha LIPI, Jumat, 22 Januari 2016.

    Pernyataan Hermawan itu menanggapi keraguan yang muncul akibat cepatnya penanganan polisi. Ia berujar, lokasi meledaknya bom sudah dijaga petugas Pengamanan Objek Vital (Pamobvit) sejak November 2015. Penjagaan tersebut berkaitan dengan ancaman teror saat Natal dan tahun baru.

    Hal itu juga yang menjadi alasan keberadaan anggota Pusat Pendidikan Kepolisian Air, Ajun Komisaris Besar Untung Sangaji dan Inspektur Dua Tamat Suryani, di sekitar lokasi. Untung mengatakan mereka sedang bertugas mengamankan jalur Presiden Joko Widodo. "Saat itu kami berada di kafe Walnut," ucap Untung.

    Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional itu juga menjelaskan, saat kejadian, Kepala Biro Operasi Kepolisian Daerah Metro Jaya Kombes Martuani Sormin tengah berjaga di Mahkamah Konstitusi. Jadi mereka bisa tiba dalam waktu singkat.

    Hermawan menjelaskan, durasi peristiwa, mulai ledakan hingga baku tembak usai, mencapai 24 menit. Karena itu, menurut dia, masuk akal jika Polda Metro tiba di lokasi kejadian dalam waktu singkat.

    Mengenai pernyataan bahwa petugas keamanan kecolongan, Hermawan membantahnya. Ia mengatakan dua bom yang tidak jadi diledakkan pelaku merupakan buktinya. "Kalau dibilang kecolongan, bomnya pasti meledak semua," katanya.

    Hermawan berujar, ada enam bom yang dipersiapkan pelaku. Empat bom meledak, sementara dua bom besar belum sempat diledakkan. Pelaku lebih dulu dilumpuhkan oleh Untung dan Tamat.

    VINDRY FLORENTIN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.