Survei SMRC: Mayoritas Masyarakat Indonesia Tolak ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tak hanya menyalakan lilin, para warga dan aktivis juga berdoa dan bernyanyi untuk para korban tragedi bom Sarinah di lokasi ledakan bom, Jakarta, 18 Januari 2016. Serangan teror yang diwarnai ledakan dan baku tembak di kawasan ini memakan 33 korban baik masyarakat sipil maupun aparat kepolisian. TEMPO/Iqbal Ichsan

    Tak hanya menyalakan lilin, para warga dan aktivis juga berdoa dan bernyanyi untuk para korban tragedi bom Sarinah di lokasi ledakan bom, Jakarta, 18 Januari 2016. Serangan teror yang diwarnai ledakan dan baku tembak di kawasan ini memakan 33 korban baik masyarakat sipil maupun aparat kepolisian. TEMPO/Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia menolak keberadaan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka menganggap ISIS merupakan ancaman bagi semua agama di Indonesia. "Sebanyak 95 persen warga Indonesia yang mengetahui ISIS menyatakan organisasi tersebut tidak boleh ada di Indonesia," kata Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2016.

    Data survei juga menyatakan penolakan terhadap ISIS terjadi di seluruh Indonesia. Angkanya, ucap Djayadi, juga meningkat dari tahun sebelumnya. 

    Djayadi berujar, walaupun survei ini menunjukkan hampir semua menolak ISIS, masih ada segelintir orang yang menerima kehadiran organisasi itu. Bahkan mereka juga sepakat dengan perjuangan yang dilakukan ISIS. 

    Temuan ini, tutur dia, juga sejalan dengan sigi yang dilakukan lembaga riset global di Amerika Serikat, Pewresearch. ‎SMRC sendiri melakukan survei terhadap 1.220 responden di seluruh Indonesia dengan usia minimal 17 tahun. Adapun waktu penelitian dilakukan pada 10-20 Desember 2015. "Walaupun saat itu belum terjadi serangan bom Thamrin, data ini setidaknya sudah mewakili sikap masyarakat Indonesia terhadap ISIS," kata Djayadi.

    Secara umum, SMRC menyatakan, selain menimbulkan korban dan ketakutan, gerakan terorisme pada dasarnya untuk memikat simpati publik. Dia mencontohkan aksi teror yang terjadi pada 2001 di Amerika Serikat. Akibat teror itu, Amerika kemudian menyerang Afganistan dan Irak. Momen inilah yang dijadikan organisasi teror untuk membenarkan klaim mereka bahwa negara Barat memusuhi Islam.

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.