25 Warga Pengikut Gafatar Belum Diketahui Keberadaannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria memandu puluhan anak untuk bernyanyi bersama di pemukiman di kawasan Monton Panjang, Kalbar, 19 Januari 2016. Meski dipaksa pindah oleh warga setempat, sebanyak 796 warga eks Gafatar ini tetap berakivitas normal. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    Seorang pria memandu puluhan anak untuk bernyanyi bersama di pemukiman di kawasan Monton Panjang, Kalbar, 19 Januari 2016. Meski dipaksa pindah oleh warga setempat, sebanyak 796 warga eks Gafatar ini tetap berakivitas normal. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Madiun - Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpol dan Dagri) Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Agus Budi Wahyono, mengatakan sejumlah orang yang diduga bekas pengurus dan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Madiun belum diketahui keberadaannya.

    Hingga hari ini, Pemerintah Kabupaten Madiun baru menerima data tentang 25 dari 50 orang eks Gafatar yang hendak dipulangkan. "Untuk yang lain Kami belum bisa mendeteksi, entah mengikuti hijrah Gafatar ke Kalimantan atau ke tempat lain," kata Agus, Kamis, 21 Januari 2016.

    Karena itu, pihak Baksebangpol dan Depdagri berupaya menanyakan kepada Pemerintah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tentang 25 orang eks Gafatar Madiun. Koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia, kepolisian setempat, dan sejumlah kepala desa juga dilakukan untuk merencanakan kegiatan sebelum dan setelah eks Gafatar kembali ke kampung halaman.

    Kegiatan yang dilakukan para pihak terkait itu, Agus melanjutkan, seperti memberikan pemahaman kepada warga untuk bisa menerima kembali eks Gafatar di lingkungan sosial. Selain itu, melakukan pengawasan secara intensif kepada anggota Gafatar.

    Adapun upaya untuk menunjang perekonomian, Agus menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas yang memiliki program usaha kecil dan menengah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Madiun. "Eks Gafatar kami arahkan ke sana (mengikuti program peningkatan ekonomi) karena aset pribadinya banyak yang telah dijual untuk pergi ke Kalimantan," ujar Agus.

    Kepala Desa Mojorayung Tri Widodo mengatakan selain menjual aset, eks Gafatar juga rela meninggalkan pekerjaannya. Hal ini seperti dilakukan Sigit Suko Bisono, pemuda setempat yang menanggalkan pekerjaannya sebagai perangkat desa yang diduga demi mengikuti hijrah Gafatar.

    Di Desa Mojorayung, Tri melanjutkan, empat warganya menghilang dan disinyalir pergi ke Kalimantan. Hingga berita ini ditulis, pihak desa dan pemerintah kabupaten belum mendapatkan informasi tentang keberadaannya. "Saya mewakili keluarga berharap agar secepatnya bisa pulang," katanya.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.