Senin, 22 Oktober 2018

Mahasiswa Beri Konseling LGBT, Begini Respons UI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Universitas Indonesia. Doc : http://iluniuikepri.com/ KOMUNIKA ONLINE

    Logo Universitas Indonesia. Doc : http://iluniuikepri.com/ KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa mahasiswa dan alumnus Universitas Indonesia menawarkan layanan bimbingan konseling kepada anak muda yang memiliki orientasi seksual atau populer disebut LGBT--akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Para mahasiswa itu mengatasnamakan lembaga konseling mereka, Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) UI.

    Mereka menyebarluaskan informasi mengenai layanan konseling LGBT tersebut lewat jejaring sosial Twitter. Juru bicara Universitas Indonesia, Rifelly Dwi Astuti, menanggapi kegiatan SGRC yang mengatasnamakan korps kampus kuning tersebut.

    Rifelly mengatakan SGRC tak pernah mengajukan izin kepada pihak kampus dalam menyelenggarakan kegiatannya. “Baik kepada pimpinan fakultas, universitas, ataupun pihak berwenang lain di UI,” kata Rifelly melalui siaran persnya yang diterima Tempo, Kamis, 21 Januari 2016.

    Ia menjelaskan, SGRC tidak memiliki izin resmi sebagai pusat studi, unit kegiatan mahasiswa, maupun organisasi kemahasiswaan. Sehingga, kata dia, universitas tidak bertanggung jawab atas segala kegiatan SGRC. "SGRC tidak berhak menggunakan nama dan logo Universitas Indonesia dalam menyelenggarakan kegiatannya," kata Rifelly.

    Adapun SGRC menyebarluaskan kegiatan bimbingan konselingnya itu lewat jejaring sosial pada hari ini, 21 Januari 2016. Dalam pengumuman yang berjudul Peer Support Network tersebut, tertera empat nama mahasiswa maupun alumnus UI yang akan memberikan konseling kepada LGBT. SGRC juga bekerja sama dengan situs www.melela.org, yaitu situs yang berisi kisah dan pengalaman orang-orang LGBT.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.