Kisah Duit Transfer dari Australia untuk Aksi Teror di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan aliran dana teroris yang bersumber dari Australia meski masih diselidiki apakah dana itu ada kaitannya dengan peristiwa bom kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

    "Empat staf PPATK di Australia melaporkan ada warga Australia bernama L yang mentransfer uang ke rekening istrinya yang kebetulan dari Nusa Tenggara," kata Kepala PPATK Muhammad Yusuf di Surabaya, Rabu, 20 Januari 2016.

    Yusuf mengemukakan istri L itu memberikan sebagian uangnya kepada H. "Uangnya memang ada yang dialirkan ke sebuah yayasan, tapi ada yang diberikan kepada H. Kebetulan H adalah terduga teroris yang memasok senjata dari Filipina ke Indonesia," kata Yusuf didampingi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Anton Setiadji setelah memberikan pembekalan kepada jajaran reserse se-Jawa Timur.

    Menurut dia, sejumlah rekan H yang menerima senjata itu ada yang berangkat ke Suriah.

    "Jadi patut diduga ada aliran dana dari Australia ke Indonesia, tapi kaitan dengan bom Sarinah (peristiwa 14 Januari) perlu ditindaklanjuti (dengan pemeriksaan)," katanya.

    Dalam pembekalan itu, Yusuf mengaku dirinya sudah mengusulkan kepada Menko Polhukam untuk menangkal terorisme dengan merevisi UU Kepabeanan.

    "Saya sudah menyurati Menko Polhukam bahwa untuk menangkal terorisme itu tidak hanya dengan merevisi UU Terorisme, tapi UU Kepabeanan juga perlu direvisi," katanya.

    Yusuf menyatakan revisi penting untuk UU Kepabeanan antara lain dengan memberikan kewenangan kepada Polri untuk menangani kasus penyelundupan di wilayah kepabeanan.

    "Kasus kepabeanan selama ini ditangani petugas Bea dan Cukai, padahal tidak semua kepabeanan memiliki petugas Bea dan Cukai. Karena itu, Polri bisa melengkapi keterbatasan Bea dan Cukai tersebut," katanya.

    Yusuf menyebut PPATK menemukan bea kepabeanan sekitar Rp 800 miliar yang tidak dilaporkan ke kas negara. "Itu karena petugas Bea dan Cukai memiliki keterbatasan sumber daya manusia," katanya.

    Apalagi, kata Yusuf, Polri juga memiliki kemampuan penyelidikan dan penyidikan terkait barang selundupan yang berhubungan dengan jaringan terorisme atau sindikat narkoba.

    ANTARA



    Video Terkait:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.