Mahasiswa Hilang Ikut Gafatar, Polisi Diminta Lacak WhatsApp

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Surat yang dikirim Erri Indra Kautsar kepada orangtuanya. Erri adalah mahasiswa Surabaya yang menghilang diduga karena ikut Gafatar. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    Surat yang dikirim Erri Indra Kautsar kepada orangtuanya. Erri adalah mahasiswa Surabaya yang menghilang diduga karena ikut Gafatar. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    TEMPO.CO, Surabaya - Keberadaan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Erri Indra Kautsar, 19, masih belum jelas. Erri, yang diduga menghilang karena bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), ditengarai berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Ayahnya, Suharijono, 59, menampik dugaan anaknya telah ditemukan.

    “Saya sudah dengar kabar itu dari Bakesbangpol Linmas, tapi anaknya belum pulang,” katanya kepada Tempo, Selasa, 19 Januari 2016. Erri menghilang sejak 17 Agustus 2015.

    Suharijono menyayangkan sikap Bakesbangpol Linmas yang terburu-buru mengungkapkan kabar itu ke media massa. Sebab, hal itu justru makin mempersulit pencarian putranya. “Nanti kalau mereka tahu nomor ponselnya, pasti diganti lagi.”

    Baca juga: Istana Kecewa Anggota Gafatar Dianiaya

    Para pengikut Gafatar, kata dia, kini lebih sering berkomunikasi melalui aplikasi WhatsApp dibandingkan dengan telepon atau pesan pendek. Karenanya, sinyalnya lebih sulit dilacak. “Mereka mengkloning nomor WhatsApp,” ujar Suharijono.

    Sebelumnya, Kepala Bakesbangpol Linmas Kota Surabaya Sumarno menyatakan telah mengetahui keberadaan Erri di Pontianak, Kalimantan Barat, bersama temannya yang juga bergabung dengan Gafatar. “Kemarin teman Erri bisa dihubungi oleh anggota kami. Dia bilang berada di Pontianak,” tuturnya.

    Menurut Soemarno, petugasnya masih terus berkomunikasi dan berpesan supaya Erri memberikan kabar kepada orang tuanya di Surabaya. Sebab, selama ini mereka risau menunggu-nunggu kepastian keberadaan Erri. “Kami minta supaya dia menghubungi orang tuanya dan memberi kabar keberadaan serta kondisinya saat ini,” ujarnya.

    Baca juga: Polisi Jamin Keamanan Anggota Gafatar dari Kalimantan

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.