Kegiatan Dakwah Keliling di Pelosok Tulungagung Diawasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga dan pegawai negeri sipil menyimak ceramah usai shalat dzuhur di Masjid Pusat Dakwah Islam, Bandung, Jawa Barat (10/7). Berbagai kegiatan religi di lingkungan masjid menjadi pilihan masyarakat untuk mengisi waktu selama menjalani ibadah puasa. TEMPO/Prima Mulia

    Warga dan pegawai negeri sipil menyimak ceramah usai shalat dzuhur di Masjid Pusat Dakwah Islam, Bandung, Jawa Barat (10/7). Berbagai kegiatan religi di lingkungan masjid menjadi pilihan masyarakat untuk mengisi waktu selama menjalani ibadah puasa. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Tulungagung – Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung mulai mengawasi kegiatan dakwah keliling (jaulah) yang dilakukan kelompok tertentu. Tujuan pengawasan adalah memastikan materi dakwah mereka tak mengandung ajaran radikal atau menghasut.

    Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Tulungagung Mashudi Al-Ashari mengatakan kegiatan dakwah keliling kerap dijumpai di Tulungagung, terutama di pelosok-pelosok desa. Pendakwah umumnya mengenakan gamis putih dan datang secara berkelompok. Mereka mendatangi masjid atau surau dan bergabung bersama jemaah.

    Dengan menggandeng masyarakat setempat, mereka mengajarkan mengaji, tadarus, dan salat berjemaah. Selain di masjid, kelompok pendakwah ini mendatangi warga dari rumah ke rumah. Mashudi khawatir mereka membawa misi tertentu berkedok syiar.

    Menurut Mashudi, kegiatan tersebut harus diawasi polisi dan tokoh agama Islam setempat. Paling tidak, ucap dia, perangkat desa meminta identitas mereka agar jelas diketahui asal usulnya. “Situasinya sedang darurat teroris. Kami tindak bermaksud membatasi kegiatan dakwah,” ujarnya, Rabu, 20 Januari 2016.

    Ketua Pengurus Wilayah Robithoh Ma'ahid Al Islamy (RMI) atau Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Jawa Timur Reza Ahmad Zahid tak keberatan kegiatan dakwah diawasi. Ia tak menampik bahwa banyak organisasi yang patut diwaspadai.

    Gus Reza--sapaan akrabnya--mengaku pernah melakukan penelitian terhadap kegiatan jaulah hingga ke Pakistan. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini menemukan kaitan jaulah dengan program dakwah dari kelompok Tabligh Akbar.

    Kelompok tersebut berasal dari India dan menganggap kegiatan dakwah dari pintu ke pintu lebih efektif dibanding mendatangkan massa. “Mereka merekrut anggota dari semua kalangan, baik NU maupun Muhammadiyah,” ujar Gus Reza.

    Kegiatan jaulah juga sering menghadirkan pendakwah asing untuk menarik simpati masyarakat. Meski begitu, menurut Gus Reza, kegiatan jaulah tak bisa serta-merta dituding beraliran Wahabi atau sebaliknya. Perlu kajian dan pantauan lebih jauh soal ini, agar tak salah langkah dalam melakukan pengawasan.

    HARI TRI WASONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.