Teror di Jalan Thamrin Jakarta, Topi Nike versus Baju Gamis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria yang tidak diketahui identitasnya terlihat menenteng senjata di Jalan Thamrin, usai ledakan bom di Jakarta, 14 Januari 2016.  Veri Sanovri/Xinhua via AP

    Seorang pria yang tidak diketahui identitasnya terlihat menenteng senjata di Jalan Thamrin, usai ledakan bom di Jakarta, 14 Januari 2016. Veri Sanovri/Xinhua via AP

    TEMPO.COJakarta - Serangkaian bom, ledakan granat, dan pistol menghajar Jakarta pada Kamis, 14 Januari 2016 lalu. Sejumlah orang tewas, termasuk setidaknya empat dari mereka yang diduga teroris. Saat para pembunuh berdarah dingin itu beraksi, fotografer Tempo, Aditia Noviansyah, berada di lokasi kejadian dan merekam aksi pelaku teror bom itu.

    Lelaki itu berdiri di Jalan Thamrin arah Bundaran Hotel Indonesia. Aditia menembak pelaku dengan kameranya, lensa 70/200. Lelaki bertopi Nike tersebut terlihat bersama seseorang yang mengenakan pakaian biru dan rompi hitam. Belakangan diketahui pria bertopi Nike itu adalah Afif atau Sunakim

    Kepala Kepolisian RI Jenderal Badroddin Haiti memastikan lelaki itu bernama Afif. Menurut Badrodin, Afif ditangkap pada 2010 dan diganjar hukuman penjara 7 tahun karena terlibat pelatihan militer di Jalin Jantho Aceh. Pelatihan ini dianggap sebagai persiapan melakukan teror. “Kami sedang selidiki mengapa dia sudah bisa keluar dari penjara,” kata Badrodin. Sunakim tewas dalam peristiwa itu. Dari sejumlah narasumber yang Tempo temui, Afif selama ini menyatakan baiat terhadap ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). 

    Perkara teroris mengenakan topi Nike ini menjadi perbincangan, bahkan polemik. Ada yang bilang pelaku bukan bagian dari ISIS hanya karena mereka mengenakan busana merek terkenal. Diskusi pun melebar ke soal gamis atau bukan gamis, jenggot atau tak berjenggot, celana cingkrang atau menutup mata kaki, dan seterusnya.

    Mantan narapidana kasus terorisme, Kurnia Widodo alias Bobi, tidak kaget ketika menyaksikan Afif mengenakan celana jins biru, sepatu kets, t-shirt, dan topi yang semuanya branded. Menurut Kurnia, dalam pengajian dan dalam kehidupan normal sehari-hari, kebanyakan lelaki dewasa yang aktif dalam gerakan Islam memang mengenakan pakaian panjang, gamis atau jubah. Mereka meyakini pakaian ini sesuai dengan sunah atau anjuran Nabi Muhammad. Mereka juga banyak yang berjenggot. 

    Namun, kata Kurnia, ketika seseorang mendapat tugas untuk ‘amaliyah’ atau tugas operasi melakukan serangan, mereka boleh mengenakan pakaian apa pun. Biasanya, mereka mengenakan pakaian yang lazimnya dikenakan banyak orang agar tidak mengundang perhatian. Jenggot pun bisa mereka babat bersih. “Mereka boleh pakai jins, kaus, atau pakaian yang selama ini dianggap tidak Islami,” kata Kurnia, Jumat, 15 Januari 2016.

    Menurut Kurnia, soal pakaian dan penampilan, ketika melakukan amaliyah, sangat situasional. Kurnia Widodo pernah ditangkap polisi pada Agustus 2010 lalu dengan tuduhan masuk kelompok Cibiru, Bandung. Ketika itu, polisi menangkap lima orang tersangka yang dideteksi akan meledakkan Markas Besar Kepolisian RI dan sejumlah gedung kedutaan besar di Jakarta. Seorang di antaranya yang ditangkap adalah Kurnia Widodo, sarjana Teknik Kimia lulusan Institut Teknologi Bandung. 

    Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonis mereka terbukti melakukan tindak pidana terorisme sehingga dihukum selama enam tahun penjara. Kini Kurnia sudah bebas setelah mengajukan pembebasan bersyarat. Ia yang masuk ITB tahun 1992 itu menjalani hukuman selama tiga tahun dan delapan bulan. Sekarang Kurnia Widodo menyatakan tidak sehaluan dengan sejumlah kawannya yang bergabung dengan ISIS. “Menegakkan syariat Islam ada tahapannya, tidak asal menyerang,” kata Kurnia.

    Hal yang sama diungkapkan Arifuddin Lako, yang pernah ditangkap polisi karena masuk dalam jaringan pelaku teror di Poso dan Palu. Arifuddin pernah mendekam di penjara karena terbukti terlibat dalam penembakan jaksa di Palu. Kini Arifuddin telah bebas dan kembali ke Poso. “Saya ke mana-mana pakai jins dan t-shirt, bukan gamis,” katanya. Ia tahu, dalam jaringannya ketika itu, banyak pria yang mengenakan gamis atau jubah.

    SUNUDYANTORO

    Video Terkait:



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.