Lewat Surat Jaringan Teror Bom Sarinah Ancam Bom Bali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan asing memotret kendaraan taktis Brimob Polda Bali ketika berpatroli pasca teror Bom Sarinah di kawasan Monumen Bom Bali, Kuta, Bali, 14 Januari 2016. Pengamanan ditingkatkan di sejumlah objek vital dan kawasan wisata. TEMPO/Johannes P. Christo

    Wisatawan asing memotret kendaraan taktis Brimob Polda Bali ketika berpatroli pasca teror Bom Sarinah di kawasan Monumen Bom Bali, Kuta, Bali, 14 Januari 2016. Pengamanan ditingkatkan di sejumlah objek vital dan kawasan wisata. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Buleleng- Situasi di kawasan Bali Utara digemparkan oleh surat berisi ancaman bom yang dikirim ke Kantor Camat Buleleng, di Jalan Kartini, No. 4 A, Singaraja, Bali pada Senin, 18 Januari 2016.

    Isi surat tersebut menyebut sebagai anggota jaringan teror bom Sarinah yang sudah berada di Singaraja dan Denpasar. Surat itu menyebutkan  akan menyerang pusat perbelanjaan, perkantoran, dan pusat wisata.

    Surat ancaman bom tersebut meresahkan warga, mengingat pada Kamis, 14 Januari 2016 terjadi teror bom di kawasan Sarinah, Jakarta. Isi surat tersebut menyebut sebagai anggota jaringan teror bom Sarinah yang sudah berada di Singaraja dan Denpasar.

    Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Buleleng Ajun Komisaris Besar Harry Haryadi mengatakan kronologis kejadian tersebut bermula pukul 08.30 Wita ketika supir Camat Buleleng sedang duduk di parkiran kantor. Saat itu, kata Harry, tiba-tiba datang seseorang pria tidak dikenal mengendarai sepeda motor, helm tertutup, mengenakan jaket warna hitam dan masuk halaman parkir.

    “Orang tak dikenal itu menanyakan ke supir Pak Camat. Apa benar di sini kantor Camat? Saya mau antar surat,” kata AKBP Harry menirukan suara pria tak dikenal itu kepada  Tempo, Senin, 18 Januari 2016.

    Harry menjelaskan saat itu, supir Camat Buleleng tersebut menjawab dan mempersilahkan untuk bertemu dengan petugas kantor Camat Buleleng untuk memberikan surat. “Surat tersebut disimpan dalam amplop putih yang dibungkus kantong plastik warna hitam. Setelah memberikan surat, orang tak dikenal itu langsung meninggalkan kantor Camat,” ujarnya.

    Ia menambahkan, petugas kantor Camat yang menerima sempat membuka surat tersebut sebelum diberikan ke Camat Buleleng. Saat itu, petugas langsung terkejut karena isi surat tersebut berisi ancaman bom.

    “Saat itu ada petugas Bhabinkamtibmas yang mengetahui, kemudian segera membawa surat tersebut ke Polres Buleleng. Saat ini kami sudah memeriksa tiga orang saksi, yakni petugas kantor Camat yang menerima surat, Pak Camat, dan supir,” katanya.

    AKBP Harry menuturkan pemeriksaan tiga orang saksi itu untuk mengetahui kronologis kejadian yang sebenarnya. “Kami juga periksa CCTV di kantor Camat Buleleng, sayangnya hanya ada satu dan itu tidak mengarah langsung ke halaman parkir. Jadi, petugas kami masih menelusuri informasi lewat tetangga yang berada di sekitar kantor Camat Buleleng,” tuturnya.

    Aparat Polres Buleleng terus meningkatkan pola pengamanan dan memperbanyak jumlah personil yang berjaga. “Kami serius tanggapi kejadian ini, saya tidak memikirkan apakah itu ulah orang jahil atau apapun. Kami terus telusuri siapa orang yang mengantar surat tersebut. Kami lakukan patroli dalam skala besar, bahkan sejak peristiwa bom di Sarinah, sampai saat ini kami rutin menggelar razia empat kali dalam sehari. Status pengamanan sudah pasti, kami siaga 1,” ujarnya.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.