Waduk di Kampar Meluap, Ribuan Rumah Warga Tergenang Banjir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga beraktivitas menggunakan perahu di sekitar pemukiman yang terendam banjir luapan Sungai Kampar di Desa Gunung Sahilan, Kampar, Riau, 15 November 2014. ANTARA/Rony Muharrman

    Warga beraktivitas menggunakan perahu di sekitar pemukiman yang terendam banjir luapan Sungai Kampar di Desa Gunung Sahilan, Kampar, Riau, 15 November 2014. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Hujan deras mengguyur dua Provinsi Sumatera Barat dan Riau mengakibatkan air waduk Koto Panjang di Kampar terus meluap. Akibatnya 16 desa di 5 kecamatan yang dihuni 3.273 warga terendam banjir. Warga masih tetap bertahan di rumah masing-masing meski tergenang air. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

    “Ketinggian air mencapai 80 sentimeter,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kampar Muhammad Nasir saat dihubungi Tempo, Minggu, 17 Januari 2016.

    Nasir menjelaskan, banjir terjadi akibat pintu air waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang dibuka lantaran kawasan hulu waduk di Sumatera Barat sedang mengalami musim hujan. Akibatnya, aliran air cukup deras ke bagian hilir waduk di Kampar, Riau. Walhasil, debit air terus naik dan mengalir deras sehingga pihak PLTA terpaksa membuka pintu air agar tanggul tidak jebol. “Jika pintu air tidak dibuka dikhawatirkan tanggul akan jebol,” kata Nasir.

    Nasir melanjutkan, pintu air waduk Koto Panjang dibuka pada Jumat, 15 Januari 2016. Sebelumnya, dia menambahkan, pihak PLTA Koto Panjang telah memberi tahu pemerintah Kampar dan kepolisian untuk membuka pintu air sebagai langkah antisipasi agar tanggul tidak jebol. Pemerintah daerah, kata dia, juga telah memberi peringatan kepada warga agar waspada.

    “Pintu air dibuka perlahan-lahan. Jika pintu air tidak dibuka dikhawatirkan tanggul akan jebol. Kalau tanggul jebol justru akan membuat banjir lebih parah lagi,” jelasnya.

    Nasir mengaku, sejauh ini pihaknya telah membangun puluhan tenda pengungsian dan dapur umum. Perahu karet telah dikerahkan ke desa yang terendam banjir untuk evakuasi warga.

    Namun, kata Nasir, tidak banyak warga yang mau menghuni tenda pengungsian. Warga memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. Meski demikian, warga tetap datang ke tenda pengungsian untuk mengambil bantuan logistik dan sembako yang telah disediakan pemerintah daerah.

    “Kebanyakan warga ke tenda hanya untuk mengambil makanan, mereka lebih memilih bertahan di rumah,” ujarnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.