Wapres JK Bersyukur Islam Indonesia masih Bersatu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wapres Jusuf Kalla membuka acara Indonesia Attractiveness Award 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, 12 Juni 2015.  Indonesia Attractiveness Award 2015 diselenggarakan oleh Tempo Media Grup merupakan penghargaan bagi penyelenggara daerah terbaik. TEMPO/Subekti

    Wapres Jusuf Kalla membuka acara Indonesia Attractiveness Award 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, 12 Juni 2015. Indonesia Attractiveness Award 2015 diselenggarakan oleh Tempo Media Grup merupakan penghargaan bagi penyelenggara daerah terbaik. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, MAKASSAR- Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla atau JK bersyukur Islam di Indonesia masih tetap bersatu. Meski banyak sekali perbedaan. Tidak seperti yang terjadi di Islam Timur Tengah dan Islam di Afrika, yang saling membunuh dan saling bom. "Banyak sekali yang ingin melemahkan dunia Islam," kata JK saat silaturrahim dan rapat kerja nasional Darud Da'wah Wal Irsyad (DDI) di asrama haji Sudiang Kota Makassar Sabtu 16 Januari 2016.

    JK mengatakan sejarah pergerakan islam Indonesia diwarnai oleh banyak organisasi islam. Di tingkat nasional ada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. untuk skala regional ada DDI, Hidayatullah, Alkhaerat, dan Persis. "Semua punya ciri khas dan perbedaan, tapi masih diberikan nikmat persatuan," katanya.

    Di hadapan ratusan kiai dan santri, JK juga menyinggung aksi terorisme yang menyerang Jakarta. "Deradikalisasi timbul karena ada harapan yang tidak tercapai," kata JK.
    Meski sudah terjadi, JK mengapresiasi langkah cepat TNI dan Polri yang bisa dengan cepat melumpuhkan para pelaku. "Kita harus apresiasi dan membantu TNI dan Polri dalam melawan terorisme," kata JK.

    Sabtu kemarin JK memiliki agenda membuka rapat kerja nasional DDI, meresmikan Masjid Psantren Ummul Mukminin, dan perayaan ulang tahun masjid Al Markaz Al Islami ke 20 tahun.

    MUHAMMAD YUNUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.