Bom Thamrin, Istri Terduga Syok Suaminya Dibawa Densus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ledakan ketiga bom di mobil hitam di Jalan Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ledakan ketiga bom di mobil hitam di Jalan Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Tegal - Rsd, 38 tahun, syok dan tak bisa berbuat apa-apa begitu mendengar kabar suaminya, Ali Mahmudin, ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada, Jumat, 15 Januari2016. Dia tak menyangka suami bakal berurusan aparat hukum.

    Pada saat penangkapan, Rsd mengaku tidak bersama suaminya. "Saya sedang di Pemalang," ujarnya, Sabtu, 16 Januari2016. Sehari-hari, dia jarang di rumah karena tinggal di Pemalang untuk berdagang.

    Mendapat kabar penangkapan itu, Rsd langsung menelepon salah satu rekan kerja suaminya. "Saya telepon ke teman bapak, yang menerima istrinya. Saya langsung meluncur ke Tegal pakai sepeda motor," kata dia.

    Begitu tiba di Tegal, suaminya sudah dibawa Densus 88. Dia bingung, lalu kembali lagi ke Pemalang. Rsd masih tidak percaya dengan peristiwa itu. Dia tidak pernah curiga dengan aktivitas suaminya selama ini. Perilaku Ali, kata Rsd, selama ini masih wajar-wajar saja. "Ketika aktivitas di luar pun suami saya paling hanya untuk urusan bisnis," kata dia.

    Rsd mengaku pasrah suaminya ditangkap Densus 88. "Masih kepikiran terus. Mau makan saja enggak doyan," ujarnya.

    Ali Mahmudin ditangkap bersama Fahrudin (bukan Hamka, 27 tahun, seperti ditulis Tempo.co Jumat, 15 Januari 2016). Menurut dia, Fahrudin alias Abu Zaid merupakan teman Ali. " Dia sering meminta suami saya untuk mengobatinya dengan cara bekam," kata Rsd.

    Kepala Kepolisian Resor Tegal Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ribut Hari Wibowo membenarkan dua warga Tegal ditangkap Densus 88. Namun, dia menolak memberikan penjelasan.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.