Bom di Sarinah Sudah Lama Diprediksi, Kenapa?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas kepolisian berada di lokasi terjadinya ledakan bom bunuh diri di pos polisi dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016. Tempo/subekti

    Sejumlah petugas kepolisian berada di lokasi terjadinya ledakan bom bunuh diri di pos polisi dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016. Tempo/subekti

    TEMPO.COBandung - Kurnia Widodo, mantan teroris anggota kelompok Cibiru, Bandung, mengatakan telah lama memprediksi akan terjadi teror di Jakarta jauh hari sebelum insiden bom dan penembakan itu terjadi di pusat pertokoan Sarinah, Jakarta Pusat, kemarin. Menurut Kurnia, dugaan bakal terjadinya teror itu muncul setelah ia membaca seruan di website milik ISIS yang berbahasa Arab.

    "Sebelumnya ada seruan, sewaktu kasus Santoso akhir 2015, melalui media. Ada ancaman ke Indonesia. Menggunakan bahasa Arab," ujarnya.

    Namun ia tidak pernah menduga bahwa salah satu pelaku teror tersebut merupakan sejawatnya saat di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, yaitu Afif. "Saya tidak menyangka, kok orang sekeras Afif bisa leluasa merancang," katanya.

    SIMAK: Ini Sosok Afif, Penembak Polisi dalam Teror Sarinah

    Kurnia merupakan mantan narapidana kasus kepemilikan bom dari kelompok Cibiru, Kota Bandung. Ia dipenjara di LP Cipinang pada 2011. Kurnia merupakan murid Aman Abdurrahman saat di Bandung. Kurnia juga pernah satu sel dengan Sanikem alias Afif, terduga pelaku teror di kawasan Sarinah.

    Menurut Kurnia, Afif baru keluar dari penjara sekitar pertengahan 2015. Saat itu, Afif terbukti bersalah terkait dengan tindak pidana terorisme saat mengikuti pelatihan bersenjata di Aceh. Karena itu, Kurnia menduga para pelaku bom dan penembakan di Sarinah sebagian merupakan anggota pelatihan senjata di Aceh. "Sepertinya senjata-senjata yang dipakai merupakan sisa-sisa waktu dulu."

    SIMAK: Teror di Sarinah: Polisi Periksa Rumah Afif cs di Karawang

    Sebelumnya, aksi teror terjadi di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis, 14 Januari 2016. Lima ledakan terjadi di halaman parkir Starbucks, pos polisi, dan perempatan Jalan M.H. Thamrin. Satu merupakan bom bunuh diri.

    Polisi terlibat baku tembak dengan pelaku teror. Akibatnya, timbul 31 korban, 7 orang di antaranya tewas dan sisanya luka-luka. Dari ketujuh orang meninggal tersebut, lima orang diduga sebagai pelaku peledakan bom dan penembakan. Dua orang lainnya adalah warga sipil, masing-masing satu orang warga negara Belanda dan warga Indonesia.

    Hari ini, pemerintah Indonesia menyatakan situasi sudah terkendali. Meski begitu, pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati karena menghadapi teroris bukan suatu hal yang mudah. 

    IQBAL T LAZUARDI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.