Ekspat Korban Bom Sarinah: Lengan Terbakar & Paku di Baju

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Detik-detik meledaknya bom di depan gerai Starbucks kawasan Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016. (Istimewa)

    Detik-detik meledaknya bom di depan gerai Starbucks kawasan Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016. (Istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Inilah momen yang tak pernah dilupakan oleh Frank Faulner, salah satu ekspatriat yang menjadi korban bom Sarinah, Kamis 14 Januari 2015. Kepada Tempo.co, warga Jerman ini menuturkan detik-detik saat dia menikmati kopi dan kemudian bom meletus di gerai kopi tersebut. Lengan bajunya terbakar, di bajunya juga ada paku.

    Lewat pesan tertulis pada Tempo, Frank menjelaskan alur situasi yang terjadi di lokasi kejadian saat itu. “Saya sedang rapat dengan Johan di Starbucks tadi pagi.” ujarnya. Kedai Starbucks yang dimaksud Frank berada di samping pusat perbelanjaan Sarinah, yang menjadi lokasi ledakan. Frank Faulner yang merupakan suami dari anggota Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indoneaia, Bivitri Susanti.  Dia bersama Johan Kieft yang merupakan anggota PBB.

    “Pukul 10.02 WIB, saya tiba di Stacbucks dan mengambil kursi, kemudian pukul 10.15 WIB Johan pun datang, kami membicarakan liburan akhir tahun,” kata dia.

    Frank menjelaskan situasi di dalam Starbucks saat itu. “Terdapat sebuah meja tinggi yang berdekatan dengan tempat gula dan creamer, di situ ada 6 orang yang tidak terlihat seperti pelanggan Starbucks pada lazimnya.” Tapi Frank hanya curiga dalam hati.

    Pendapat Frank tersebut lantaran dia berpikir tak ada pelanggan Starcbucks yang akan terus berdiri di samping meja tanpa mencari tempat duduk yang nyaman. Frank mengaku melihat keenam orang tersebut berjalan keluar.

    “Tak lama setelah itu, terjadilah ledakan itu. Arah ledakan dari kanan saya.” 

    Frank mengatakan asap putih seketika memenuhi ruangan dan situasi menjadi senyap. “So quiet. Saya merunduk, Johan juga diam, dia melihat saya,” kata dia.

    Frank kemudian mencoba berdiri di antara pecahan kaca yang bertebaran, dia mengatakan bahwa lantainya yang dipijaknya terasa licin. “Johan tak bergerak saat itu, sementara saya melompat keluar salah satu jendela dan berjalan ke arah Djakarta Theatre.”

    Frank mengatakan banyak orang yang kaget melihatnya. “Lengan kanan baju batik saya terbakar, dan ada yang memeluk saya, berusaha memadamkan api.” Frank mengaku baru sadar bahwa darah mengucuri badannya. “Dari baju saya, di dekat kancing bagian perut, ada paku, tapi untung tidak masuk ke badan saya.

    Kata Frank, ada yang membantunya pergi ke rumah sakit. Dia pun meminta agar Johan juga dibawa, namun sadar bahwa kondisi Johan lebih parah darinya. “Posisi Johan lebih terekspose, badannya lebih besar dari saya. Dia mungkin kena paku yang menancap ke tubuhnya.”

    Frank mengatakan dirinya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat.

    Dilansir dari Linkedin, Johan Kieft yang diceritakan Frank menjabat sebagai Kepala unit Green Economy sejak Juli 2013. Ia bertanggung jawab dalam manajemen UNORCID Green Economy yang berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.  

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.