Bom Sarinah, Pemerintah Tegaskan 7 Orang Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membawa jenazah korban ledakan bom di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. Ledakan bom dan aksi baku tembak mengguncang pusat kota Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petugas membawa jenazah korban ledakan bom di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. Ledakan bom dan aksi baku tembak mengguncang pusat kota Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi menyatakan sebanyak tujuh orang tewas dalam serangan bom di kawasan Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016. Seusai rapat terbatas mengenai keamanan di Istana, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengatakan lima pelaku teror tewas.

    "Pelaku lima orang meninggal. Sedangkan yang dari masyarakat ada dua," kata Tito seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Kamis, 14 Januari 2016. Menurut Tito, dua korban sipil adalah satu warga negara Kanada dan satu warga negara Indonesia. "Kami sedang cari identitasnya," ucapnya.

    Sedangkan korban luka, ujar Tito, termasuk lima anggota Polri. Mereka terkena tembak, granat, serta serpihan bom berupa baut dan paku. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iqbal menjelaskan, total korban sebanyak 31 orang.

    Sebanyak 24 di antaranya korban luka, yakni 5 anggota Polri, 15 warga sipil Indonesia, dan 4 warga negara asing masing-masing dari Belanda, Austria, Jerman, dan Aljazair.

    Sekretaris Kabinet Pramono Anung menuturkan seluruh biaya pengobatan korban luka akan ditanggung pemerintah. Para korban dirawat di sejumlah rumah sakit, di antaranya RS Cipto Mangunkusumo, RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, RS Umum Daerah Tarakan, RS Abdi Waluyo, dan RS Husada.

    Ledakan bom terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Lokasi ledakan berada di jantung kota Jakarta. Banyak pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel di kawasan ini. Dari Istana Negara, lokasi ledakan hanya berjarak 1 kilometer.

    ANANDA TERESIA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.