Ahok Imbau Warga Jakarta Berhenti Sebarkan Info Tak Jelas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi sejumlah menteri meninjau lokasi aksi teror di Gedung Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016. ANTARA/Wahyu Putro A

    Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi sejumlah menteri meninjau lokasi aksi teror di Gedung Sarinah, Jakarta, 14 Januari 2016. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta warga DKI Jakarta tidak percaya dan tidak menyebarkan isu-isu yang tidak jelas asal-usulnya. Ia meminta masyarakat tetap tenang karena Kepolisian mampu menguasai keadaan. "Jangan termakan isu-isu yang tidak penting, serahkan kepada polisi," ujar Ahok—sapaan Basuki—di Istana Negara, Kamis, 14 Januari 2016.

    Menurut Ahok, ancaman terhadap Jakarta sudah ia ketahui sejak Desember 2015, tapi pemerintah daerah dan Kepolisian tak tahu kapan teroris tersebut akan beraksi.

    Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengatakan kejadian siang tadi menimbulkan korban, yakni 1 warga negara Kanada, 1 warga negara Indonesia, serta 15 warga sipil dan 5 polisi terluka. Adapun lima pelaku tewas akibat baku tembak dan ledakan bom bunuh diri. 

    Menurut Tito, keadaan dapat kembali dikuasai 20 menit setelah kejadian. Peristiwa ini, kata Tito, terjadi pada pukul 10.55, diawali dengan serangan di Starbucks. Saat itu, seorang pelaku masuk Starbucks dan meledakkan bom bunuh diri. Para pengunjung berhamburan keluar dan ternyata sudah ada dua pelaku menunggu di depan dan menembak pengunjung. Kemudian, kata Tito, tim kedua menyerang pos polisi di seberang Sarinah. Pelaku meninggal.

    Kemudian, baku tembak antara polisi dan pelaku terjadi. Empat anggota Polres Jakarta Pusat kena tembakan dan dua pelaku ditembak mati. Dua puluh menit sesudah itu, kata dia, keadaan bisa kembali dikuasai polisi.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.