37 Ribu Babinsa Kodam Wirabuana Sosialisasi Bahaya Gafatar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rohani memperlihatkan foto anak dan menantunya yang  hilang setelah bergabung dengan ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara), Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Januari 2016. Para perekrut Gafatar menjanjikan anggotanya langsung masuk surga jika telah meninggal. ANTARA/Dewi Fajriani

    Rohani memperlihatkan foto anak dan menantunya yang hilang setelah bergabung dengan ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara), Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Januari 2016. Para perekrut Gafatar menjanjikan anggotanya langsung masuk surga jika telah meninggal. ANTARA/Dewi Fajriani

    TEMPO.COMakassar - Komando Daerah Militer VII/Wirabuana mengerahkan 37 ribu bintara pembina desa (babinsa) di lingkup Pulau Sulawesi untuk mensosialisasikan bahaya organisasi masyarakat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Babinsa rutin memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan ancaman gangguan keamanan yang ditimbulkan organisasi tersebut. 

    "Di Sulawesi, kami memiliki 37 ribu babinsa, dan itu semua kami berdayakan untuk menjelaskan apa itu Gafatar. Organisasi itu kan sudah dilarang. Di balik kegiatannya di permukaan yang bagus, ternyata ada kegiatan lain yang bertentangan dengan aturan," kata Kepala Staf Kodam VII/Wirabuana Brigadir Jenderal TNI Kurnia Dewantara saat ditemui di Lapangan Karebosi, Makassar, Kamis, 14 Januari 2016. 

    Kurnia mengatakan deteksi dini mesti dilakukan mengingat masih banyak masyarakat yang tidak tahu bahaya Gafatar. Sebab, kegiatan Gafatar sangat baik bila dilihat sekilas. Beberapa kegiatan mereka antara lain pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan, dan pelbagai kegiatan sosial. Persoalannya, organisasi itu disinyalir terlibat atas menghilangnya banyak warga di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. 

    Di lingkup Sulawesi Selatan, Kurnia mengatakan, Gafatar pernah tumbuh dan berkembang di Gowa. Mereka banyak melakukan kegiatan di daerah tetangga Makassar itu. Belakangan, organisasi itu mulai mendapatkan penolakan dari masyarakat sehingga akhirnya dibubarkan. Secara resmi, Gafatar dinyatakan bubar sejak Agustus tahun lalu. "Kami akan terus melakukan deteksi dini," tutur Kurnia. 

    Juru bicara Kepolisian Daerah Kepolisian Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, menambahkan pihaknya masih melakukan pendataan dari kepolisian lingkup kabupaten/kota. "Hingga kini, sudah ada dua keluarga dari dua daerah yang dilaporkan menghilang. Kami masih mendata daerah lain bila memang ada laporan kehilangan," ucapnya. 

    Di Makassar, tercatat lima orang menghilang yang merupakan satu keluarga. Mereka adalah pasangan suami-istri, yakni Abdul Kadri Nasir (32) dan Hasrini Hafid (32). Turut hilang kedua anaknya, yaitu Abiyan (2) dan Berlian (7 bulan), serta pembantunya, Ratih (20). Pasangan suami-istri itu berstatus PNS Badan Pusat Statistik Kabupaten Jeneponto. Mereka memiliki rumah kontrakan di daerah tersebut. 

    Berikutnya di Luwu, satu keluarga yang terdiri atas tiga orang juga menghilang. Mereka adalah pasangan suami-istri Burhan Faisal dan Andi Muliani, beserta seorang anak yang masih bayi. Kedua keluarga itu dilaporkan hilang sejak tahun lalu. Di setiap keluarga itu diketahui ada yang berstatus pentolan Gafatar. Kadri merupakan Sekretaris Gafatar Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Gafatar Jeneponto. Adapun Burhan menjabat Ketua Gafatar Kendari.

    TRI YARI KURNIAWAN

    Baca juga:
    Polri: Racun di Kopi Mirna Lebih Kuat ketimbang Racun Munir
    Gempar, Misteri Terakhir Einstein Dikabarkan Terpecahkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.