Direkrut Gafatar usai Kerja Bakti, Empat Warga Madiun Hilang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sukimah  menunjukan foto tiga anaknya yang hilang di Ketitang, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, 12 Januari 2016. Polisi mengatakan bahwa mereka berniat menciptakan peradaban baru. Gafatar juga memiliki ideologi menyatukan ajaran agama yang ada. Meski beragama Islam, anggota Gafatar tak diwajibkan salat dan puasa. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    Sukimah menunjukan foto tiga anaknya yang hilang di Ketitang, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, 12 Januari 2016. Polisi mengatakan bahwa mereka berniat menciptakan peradaban baru. Gafatar juga memiliki ideologi menyatukan ajaran agama yang ada. Meski beragama Islam, anggota Gafatar tak diwajibkan salat dan puasa. ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, Madiun - Empat warga Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur menghilang sejak beberapa bulan terakhir. Mereka diduga bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar. Tiga di antaranya masih satu keluarga, yaitu Sigit Suko Bisono yang pergi meninggalkan rumah bersama Dwi Ernawati, istrinya dan Bagaskara Satria Wahyu Wibisono, anaknya yang belum genap berusia dua tahun.

    "Sigit dan keluarganya pergi pada akhir Juli 2015," kata Kepala Desa Mojorayung, Tri Widodo, Rabu, 13 Januari 2016.

    Selain Sigit yang bekerja sebagai Perangkat Desa Mojorayung dan keluarganya, juga ada Oki, seorang pemuda desa setempat juga menghilang sejak September 2015. Mereka diketahui menjadi bagian dari Gafatar lantaran terlibat dalam kegiatan sosial yang sempat diselenggarakan oleh organisasi masyarakat itu di desa setempat.

    "Gafatar pernah melaksanakan donor darah, menanam jagung, dan kerja bhakti di hutan," ujar Tri.

    Kegiatan tersebut, menurut dia, berlangsung dalam waktu yang tidak berbarengan dan diikuti 40 hingga 50 orang yang diduga anggota Gafatar. Tiga di antara adalah warga Desa Mojorayung yang hendak direktrut menjadi anggota Gafatar. "Mereka menolak saat diajak bergabung," ucap Tri.

    Selain menjalankan kegiatan sosial, anggota Gafatar juga terlibat pengajian rutin. Suyatno, ayah Sigit Suko Bisono, mengatakan bahwa setiap Sabtu malam anaknya berpamitan untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Gafatar di sejumlah lokasi. "Di Caruban (Kabupaten Madiun) pernah, di Yogyakarta juga pernah," ujar dia.

    Pada hari Sabtu di akhir Juli 2015, Sigit mengajak anak dan istrinya untuk mengikuti pengajan. Suyatno mengungkapkan, sejak saat itulah Sigit beserta keluarganya tidak kembali ke rumah. Suyatno mengaku tidak mengetahui keberadaan Sigit dan keluarganya. Hingga kini komunikasi antarkeduanya tidak terjalin.



    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.