Gafatar Pernah Ajukan Pendaftaran Organisasi di Boyolali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahful M. Tumanurung, Ketua Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Gafatar.or.id

    Mahful M. Tumanurung, Ketua Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Gafatar.or.id

    TEMPO.CO, Boyolali - Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) diketahui pernah mengajukan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) di Kabupaten Boyolali. “Itu sekitar 1,5 tahun lalu. Namun, pengajuan SKT organisasi tersebut terkendala administrasi,” kata Kepala Seksi Politik dan Kewaspadaan Nasional Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Boyolali, Suwarno, Selasa, 12 Januari 2016.

    Menurut Suwarno, saat itu ada empat orang yang mengatasnamakan Gafatar sering datang ke Kantor Kesbangpol Boyolali. Selain mengajukan permohonan SKT sebagai organisasi resmi yang bergerak di bidang sosial, empat orang tersebut juga beberapa kali mengajukan proposal kegiatan. Bahkan, Gafatar pernah mengajukan permohonan audiensi dengan Bupati.

    Namun, semua proposal dan permohonan audiensi tidak dilayani karena Gafatar yang mengaku memiliki kantor sekretariat di wilayah Kecamatan Teras belum mengantongi SKT. Suwarno mengatakan, Kantor Kesbangpol sempat menaruh curiga pada organisasi Gafatar. Sebab, dari sejumlah berkas proposal yang diajukan Gafatar, kata Indonesia selalu diganti dengan kata Nusantara.

    Menurut Suwarno, petugas Kantor Kesbangpol Boyolali juga pernah memantau kegiatan donor darah yang diselenggarakan Gafatar di wilayah Kecamatan Banyudono sekitar satu tahun lalu. “Setelah sekian lama tidak terdengar, kabar tentang Gafatar kini muncul lagi berkaitan dengan kasus hilangnya dokter Rica Tri Handayani,” katanya.

    Dokter Rica asal Lampung yang dikabarkan menghilang sejak 30 Desember 2015 ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada Senin lalu. Diduga Rica ikut hijrah atau eksodus organisasi Gafatar. Rica ditemukan bersama tiga warga asal Boyolali. Informasi yang dihimpun Tempo, tiga warga Boyolali itu adalah Eko Purnomo dan istrinya, Veni Orinanda, dan adik Eko, Krisma Fitri Arta.

    Kepala Kepolisian Resor Boyolali Ajun Komisaris Besar Budi Hartono mengaku telah menugaskan sejumlah anggotanya ke Kepolisian Daerah Yogyakarta untuk mencari tahu keterlibatan serta peranan tiga warga Boyolali tersebut dalam organisasi Gafatar. “Akan kami sampaikan hasilnya setelah anggota kami pulang dari Jogja,” kata Budi.

    Dari pantauan Tempo pada Selasa siang, sejumlah anggota Polres Boyolali menjemput orang tua Eko dan Krisma di rumahnya di Dukuh Ringinrejo, Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari. “Kabarnya dua anak saya sudah ditemukan dan sekarang di kantor Polda DIY. Kami hendak menemui mereka,” kata Sularto, 54 tahun, ayah Eko dan Krisma.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.