Pengerukan Sumur Baru Lapindo Dihentikan, Warga Syukuran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan warga membawa spanduk saat aksi unjuk rasa di lokasi sumur Tanggulangin 1 di desa Kedungbanteng, Sidoarjo, Jawa Timur, 11 Januari 2016. Warga menolak rencana pengeboran sumur baru Lapindo Brantas Inc dan meminta Lapindo menghentikan aktifitas pengurukan. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Puluhan warga membawa spanduk saat aksi unjuk rasa di lokasi sumur Tanggulangin 1 di desa Kedungbanteng, Sidoarjo, Jawa Timur, 11 Januari 2016. Warga menolak rencana pengeboran sumur baru Lapindo Brantas Inc dan meminta Lapindo menghentikan aktifitas pengurukan. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Sehari pascapenarikan alat berat, lokasi pengeboran milik perusahaan minyak dan gas Lapindo Brantas Inc di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, terlihat lengang, Selasa, 12 Januari 2016.

    Pagar kawat setinggi orang dewasa yang dijadikan sebagai pintu masuk lokasi pengeboran terkunci rapat. Tak seperti biasanya, tidak tampak sejumlah petugas penjaga, berbeda dengan kemarin saat proses penarikan alat berat.

    Di pagar kawat pintu masuk itu terpasang sebuah spanduk yang bertuliskan pernyataan sikap warga setempat yang menolak pengerukan dan pengeboran. Spanduk itu digunakan saat warga mengadakan demo, Senin kemarin.

    Warga Desa Kedungbanteng dan Desa Banjar Asri akan mengadakan acara syukuran atas berhentinya kegiatan pengerukan Lapindo, Selasa sore ini. Acara syukuran sore itu berupa pemotongan tumpeng. "Kegiatan itu sebagai bentuk rasa syukur warga atas disetopnya kegiatan Lapindo," ujar Ketua RT 3 RW 2 Desa Kedungbanteng M. Fauzi.

    Senin, 11 Januari 2016, ratusan warga dua desa melakukan demo di depan lokasi pengeboran bersamaan dengan penarikan alat berat. Demo itu sebagai bentuk penegasan warga sejak awal menolak pengeboran.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara