Sembuh, Rekan Salim Kancil Demo Dukung Penambang Tradisional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis penolak tambang pasir Lumajang, Tosan (kanan) bersama istrinya Ati Hariati saat di temui petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, 13 Oktober 2015. Setelah dinyatakan pulih oleh dokter, korban kekerasan penolak tambang pasir di desa Selok Awar-awar Lumajang tersebut hari ini boleh meninggalkan rumah sakit. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Aktivis penolak tambang pasir Lumajang, Tosan (kanan) bersama istrinya Ati Hariati saat di temui petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, 13 Oktober 2015. Setelah dinyatakan pulih oleh dokter, korban kekerasan penolak tambang pasir di desa Selok Awar-awar Lumajang tersebut hari ini boleh meninggalkan rumah sakit. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Aksi damai ratusan penambang tradisional dari tujuh desa di tepian Kali Mujur ke Kantor Bupati Lumajang, Jawa Timur, didukung rekan almarhum Salim Kancil, Tosan dan Hamid, Senin, 11 Januari 2015. Dua tokoh penolak tambang di pesisir Pantai Selatan Lumajang itu ikut turun ke jalan bergabung dengan penambang tradisional. Turut bergabung juga Ustad Nawawi, ulama yang juga tak setuju penambangan pasir.

    Hamid  sempat berorasi mengecam pemerintah yang dianggap tidak mampu bersikap bijak terhadap para penambang tradisional Kali Mujur yang sudah turun temurun menambang dengan hanya dengan peralatan sekop dan pengayak pasir. Hamid mengatakan, dia bersama almarhum Salim Kancil dan juga Tosan berjuang untuk menolak tambang di pesisir selatan.

    Namun untuk penambang tradisional di Kali Mujur harus tetap bekerja. Dia mengatakan tidak benar kalau perjuangannya dengan Salim Kancil dan Tosan telah mengakibatkan penambang tradisional kehilangan mata pencaharian. "Pemerintah tidak bijak dalam menyikapi keberadaan penambang tradisional ini," kata Hamid.

    Namun perjuangan para penambang tradisional untuk bisa bekerja kembali masih gelap. Sebab hasil pertemuan perwakilan penambang tradisional dengan Bupati Lumajang, As'at Malik, belum membuahkan keputusan yang berarti.

    As'at Malik mengaku tidak memiliki wewenang untuk memberikan rekomendasi kepada penambang agar bisa bekerja lagi kendati belum mengantungi izin. "Jangan paksa-paksa saya untuk melanggar aturan," kata As'at di depan perwakilan penambang tradisional.

    Jika penambang tradisional melanggar aturan dengan tetap melakukan penambangan walaupun ijin tidak ada, maka polisi akan menangkap. As'at tidak mau dianggap melakukan pembiaran ketika membolehkan penambangan tidak berizin.

    Sejak kasus pembunuhan Salim Kancil akhir September tahun lalu, pemerintah daerah menghentikan seluruh kegiatan penambangan di Lumajang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih menyeleksi izin penambangan perusahaan besar. Aturan ini diprotes penambang tradisional yang hanya menggunakan piranti sekop dalam mengeruk pasir.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.