Sutiyoso, Dini Minimi, dan Orang di Balik Pertemuan Mereka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Din Minimi, Kepala Bin Sutiyoso, dan fasilitator perundingan damai Gerakan Aceh Merdeka-RI Juha Christensen di kamp Din di Aceh.(Dokumentasi Juha Christensen)

    Din Minimi, Kepala Bin Sutiyoso, dan fasilitator perundingan damai Gerakan Aceh Merdeka-RI Juha Christensen di kamp Din di Aceh.(Dokumentasi Juha Christensen)

    TEMPO.CO, Jakarta - Negosiasi damai antara pemerintah Indonesia yang diwakili Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso dan kelompok bersenjata Dini Minimi terjadi setelah kedua pihak berkomunikasi secara intens.

    Perundingan itu bisa terjadi, salah satunya karena peran Juha Christensen, seorang warga negara Finlandia yang berpengalaman menjadi fasilitator perundingan damai Gerakan Aceh Merdeka dengan Republik Indonesia sehingga kedua pihak mengakhiri konflik pada tahun 2005 lalu.

    Tempo pada Jumat 8 Januari 2016 menghubungi Juha Christensen ketika ia sedang berada di Finlandia untuk berbagi pengalaman bagaimana menjadi penghubung antara Din Minimi dengan Sutiyoso. Sehingga, Sutiyoso bertemu Din di kampnya di Aceh Timur, Aceh pada 28 Desember 2015 dan besoknya Din menyerahkan senjata.

    Juha Christensen mengatakan, ia tiba di Indonesia dengan keluarganya untuk pertama kali pada tahun 1985 dan berlanjut sampai tahun 1990. Ketika itu, ia dan isterinya menjadi Dosen Luar Biasa di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar.

    Dari situ, Juha tahu dengan baik Bahasa Indonesia dan adat-istiadat di Indonesia, dan bisa kerja dengan baik di semua sektor swasta maupun pemerintahan. “Saya mulai evaluasi konflik Aceh pada tahun 2001 dan ikut sebagai mediator dalam rundingan Helsinki tahun 2005 dan menjadi eksekutif di Aceh Monitoring Mission (AMM),” kata Juha Christensen.

    Juha Christensen bersama Farid Husain, dokter yang dipercaya pemerintah Indonesia menjadi pelobi dengan GAM dan Organisasi Papua Merdeka, dan organisasi tersebut terus memonitor status dan dinamika perdamaian Aceh sampai saat ini. Pengalaman itu,kata Juha,  menjadi dasar bagus untuk memfasilitasi operasi dan proses  pertemuan antara Sutiyoso dan Din Minimi yang bernama asli Nurdin Ismail itu.

    “Dua-duanya tahu dan mengakui posisi saya dalam proses perdamaian Aceh dan percaya saya sehingga saya bisa koordinasikan dengan baik dalam semua tahapan waktu pertemuan, ketika keadaan masih sensitif dan belum semua faktor jelas,” kata Juha.

    Ia merasakan, baik Sutiyoso maupun Din Minimi bisa menerima semua hal yang ia sampaikan. Juha juga melihat, Sutiyoso dan Din Minimi  merasakan bahwa pertemuan itu diatur dengan benar dan dilaksanakan dengan cara profesional.

    SUNUDYANTORO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.