Teror Mortir di Rumah Gubernur Sulsel, 2 Saksi Diperiksa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Sulawesi selatan Syahrul Yasin Limpo. TEMPO/Hariandi Hafi

    Gubernur Sulawesi selatan Syahrul Yasin Limpo. TEMPO/Hariandi Hafi

    TEMPO.CO, Makassar - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat masih mengusut dugaan teror yang terjadi di dekat lapangan tenis rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan Sungai Tangka, Ujung Pandang, Makassar. Mortir yang diduga digunakan sebagai alat untuk menteror sudah disita.

    "Hingga saat ini, baru dua saksi yang diperiksa," kata juru bicara Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera, Kamis, 7 Januari. Kepolisian enggan merinci identitas para saksi. Dia hanya mengatakan saksi adalah orang yang melihat atau mengetahui pelemparan mortir tersebut.

    Menurut Barung, polisi berusaha secepatnya mengungkap insiden ini untuk mengetahui motif pelaku. "Kami tidak ingin berspekulasi," ucapnya. Penyelidikan melibatkan tim terpadu di lingkup korps bhayangkara. Di antaranya tim inafis, tim laboratorium forensik, direktorat reserse kriminal umum dan tim penjinak bahan peledak. Hasil pemeriksaan sementara dipastikan mortir itu sudah tidak aktif.

    Selain itu, kata Barung, penyidik juga berkoordinasi dengan Komando Daerah Militer VII/Wirabuana. Sebab laporan insiden itu pertama kali diterima oleh TNI. "Kami terbuka dan profesional. Tentunya bila ada masukan dari pihak Kodam akan ditindaklanjuti," ujarnya.

    Panglima Komando Daerah Militer VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Agus Surya Bakti, mengatakan berdasarkan hasil pengecekan, mortir seri M-50 itu memang sudah tidak aktif. Barang militer itu diakuinya bikinan PT Pindad tahun 1985 yang sudah sejak lama tak digunakan oleh TNI. "Mortir itu sudah ditembakkan. Tinggal tersisa body dan bagian atas. Adapun, isi atau bahan peledaknya sudah kosong," ucapnya.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.