Soekarno, Edhi Sunarso, dan Kisah Ribetnya Bikin Patung HI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tugu Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Tugu Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Suatu hari, pada 1959, Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, memanggil tiga seniman tersohor: Trubus, Edhi Sunarso, dan Henk Ngantung, yang juga menjabat Gubernur DKI Jakarta. ”Saya mau membuat Monumen Selamat Datang untuk menyambut olahragawan Asian Games. Ayo, kau skets. Bentuknya begini, lho,” kata Presiden Republik Indonesia itu di hadapan mereka seraya mengangkat tangan kanannya, memperagakan orang yang sedang menyapa dari jauh.

    Ketiga perupa itu lantas membuat sketsa. Setelah rampung, Soekarno memeriksanya, lalu menunjuk Henk. ”Kau jadi pengawas pekerjaan ini,” katanya. Lalu ia berpaling ke Edhi dan berkata, ”Dhi, kau buat patung setinggi 9 meter dari perunggu.” Edhi, pematung berusia 27 tahun, terkesiap. ”Saya belum pernah bikin patung perunggu, Pak. Jangankan 9 meter, 10 sentimeter saja belum pernah,” kata dosen Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) itu. Kisah ini pernah dimuat di Majalah Tempo edisi 6 September 2010 lalu. Edhi Sunarso wafat  pada Senin, 4 Januari 2016, pada pukul 22.53. Jenazah dikuburkan di permakaman seniman di Imogiri, Yogyakarta.

    Soekarno menampik Edhi.  “Kau senang kalau ini saya serahkan ke luar negeri? Tidak malu? Sebagai satu bangsa dan sebagai pejuang, kau harus sanggup. Aku beri waktu seminggu. Kau berembuk dengan kawan-kawanmu di Yogya dan kembali kemari, tak ada jawaban selain sanggup. Coba bikin perencanaan tiga dimensinya,” katanya.

    Rancangan patung kemudian dibuat, berupa sepasang remaja pria dan wanita yang melambaikan tangan kanannya dan tangan kiri wanita memegang buket bunga. Namun Soekarno kurang puas. Dua kali Sang Presiden ke studio Edhi di Jalan Kaliurang Kilometer 5,5, Yogyakarta. Di sana, Soekarno kembali jadi model dan memperagakan sikap patung yang dikehendakinya. Edhi membuat lagi rancangan baru, hingga akhirnya Soekarno membubuhi “ACC Soek” di kertas rancangan itu.

    Edhi bangga sekaligus panik dipilih sebagai pembangun monumen. Masalahnya, selama ini para seniman kota itu baru membuat patung dari kayu dan batu. Perunggu belum pernah mereka sentuh. Edhi juga belum pernah membangun monumen sebesar itu dan tidak ada pula monumen yang bisa jadi contoh. Jadilah ini sebuah eksperimen pertama seniman Indonesia pada awal kemerdekaan.

    Di Yogyakarta, Edhi menemui satu-satunya orang yang dia kenal suka bereksperimen, yakni Gardono, kakak perupa G. Sidharta, yang pernah membuat patung-patung gereja. Keduanya lantas mendatangi pegawai bengkel kereta api di daerah Pengok, yang menyebut nama Darmo dan Mangun, dua pensiunan pegawai yang ahli mengecor logam. Tapi, ketika mereka bertemu kedua orang itu, ternyata mereka pun baru bisa mengecor besi, bukan perunggu.

    Edhi tak putus asa. Menurut dia, semua bisa dipelajari. Dia lalu mengeluarkan buku panduan pengecoran logam, Principles of Metal Casting dan Gas Welding and Cutting, yang dibelinya di toko buku loak saat belajar di India. Setelah didesak, akhirnya dua mantan pengecor itu bersedia membantu. Masalah berikutnya, mereka butuh gipsum. Lelaki kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 2 Juli 1932, itu lalu lari ke Solo.

    Kebetulan beberapa kawannya di masa perjuangan dari Brigade ke-13 sedang membangun pabrik gipsum di Girimulyo. Karena ini tugas dari Bung Karno, mereka pun bersedia meminjamkan mesin diesel, blower, dan semua kebutuhan pengecoran, asal Edhi membeli gipsum dari mereka, meski berutang. Edhi ke Jakarta dan melapor ke Soekarno, yang lalu menyetujuinya dan memberi bekal Rp 500 untuk memulai proyek itu.

    Namun, untuk membuat patung model setinggi 9 meter, tak mungkin dari tanah liat. Selama 3 hari 3 malam, Edhi memikirkan caranya. Akhirnya, dia jalan-jalan ke Universitas Gadjah Mada. Kampus itu sedang membangun Gedung Pusat. Dia menyaksikan para pekerja sedang mengecor beton, membangun tiang dari besi dan gelang-gelang kawat. ”Wah, bisa nih dengan cara ini,” kata Edhi.

    Eksperimen pun dimulai. Bersama Keluarga Artja, kelompok seniman yang dibentuknya untuk menangani proyek besar, Edhi mulai membuat patung dengan kerangka besi yang kemudian dicor dengan gipsum. ”Kira-kira habis 20 ton gipsum untuk membuatnya,” kata Edhi. Patung gipsum itu kemudian ditatah seperti menatah batu. ”Edhi menerapkan tradisi pahat pada patung model yang kemudian dibuat cetakan dan dituang dengan perunggu,” kata Asikin Hasan, kurator pameran Monumen Edhi Sunarso di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang berlangsung pada 14-28 Agustus lalu.

    Cara tak lazim ini, kata Asikin, memakan waktu lama dan membutuhkan ketepatan dan ketelitian. Ini berisiko. Pasalnya, gipsum seperti batu, tak bisa diperbaiki bila permukaannya rontok oleh mata pahat. Namun Edhi, yang sudah terlatih memahat batu, bisa mengatasinya. Setelah patung jadi, Edhi meragukan komposisinya. Dia menilai patung 9 meter di atas landasan 9 meter itu berlebihan. Ketika Soekarno bersama Sultan Hamengku Buwono IX, para menteri, dan duta besar datang menengok patung itu, Edhi memberanikan diri bicara. ”Pak, patung ini bila untuk di Bundaran Hotel Indonesia terlalu besar,” katanya.

    ”Ha! Patung sudah jadi baru dibilang terlalu besar. Mbok dulu-dulu bilang,” kata Soekarno, yang lalu minta pendapat  Sutami, yang nanti akan membangun landasan patung itu. Sutami mengangguk.  “Saya kira pendapat Saudara Edhi itu benar,” katanya. Soekarno akhirnya menyetujuinya.

    Edhi akhirnya membuat patung baru setinggi 6 meter. Setelah jadi, cetakan dibuat berdasarkan patung model itu dan perunggu pun dituang. Hasilnya adalah potongan-potongan perunggu setebal 1 sentimeter berukuran 50 kilogram hingga 1 kuintal. Tapi Edhi sudah lupa jumlah total potongan perunggunya. Potongan itulah yang diangkut ke Jakarta dan dilas jadi satu di lokasi. ”Patung perunggu ini tak bakal terkena korosi dan tahan 200 tahun,” kata Edhi.

    Monumen itu pun tegak pada 1962 dan menyapa para tamu peserta Asian Games yang berlaga di Istora Senayan. Inilah monumen pertama hasil eksperimen seniman Indonesia dan salah satu proyek mercusuar Soekarno. Dia menjadi lambang semangat Soekarno dan negeri yang baru bangkit dari penindasan penjajahan.



    KURNIAWAN, SUNUDYANTORO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.