Iran-Arab Saudi Tegang, MUI Minta Peran Aktif Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demonstran membawa poster saat berunjuk rasa mengecam eksekusi Syeikh Nimr al-Nimr di depan Kedutaan besar Arab Saudi, Jakarta, 4 Januari 2016. Syeikh Nimr mengkritik pemerintah dan menutut diselenggarakannya pemilihan umum. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Demonstran membawa poster saat berunjuk rasa mengecam eksekusi Syeikh Nimr al-Nimr di depan Kedutaan besar Arab Saudi, Jakarta, 4 Januari 2016. Syeikh Nimr mengkritik pemerintah dan menutut diselenggarakannya pemilihan umum. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.COJakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin meminta pemerintah menengahi ketegangan hubungan antara Iran dan Arab Saudi. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim dianggap memiliki posisi strategis untuk menjadi penengah. "Presiden sedang melakukan upaya diplomasi," ujarnya di Istana Negara, Selasa, 5 Januari 2016.

    Ma'ruf mengatakan memanasnya hubungan Iran dengan Arab Saudi berpotensi meluas karena dua negara tersebut mempunyai sekutu masing-masing. Ia mencontohkan Iran, yang berteman dengan Suriah, Irak, dan Libanon. 

    Konflik antara Iran dan Arab Saudi, kata Ma'ruf, sangat kompleks karena tak hanya berkaitan dengan akidah Wahabi dan Syiah, tapi juga soal ekonomi hingga minyak. "Di belakang mereka juga ada Amerika Serikat dan Rusia, sangat kompleks," tuturnya.

    Presiden Joko Widodo, kata Ma'ruf, serius ingin menengahi konflik ini karena sudah melakukan upaya pendekatan terhadap masing-masing negara. "Bahkan mau ada konferensi, beliau serius sekali," ujarnya.

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan konferensi diadakan sebagai sarana perdamaian dan mendekatkan dua negara tersebut. "Namun Presiden tak menyampaikan detailnya seperti apa," tuturnya.

    Hubungan antara Iran dan Arab Saudi memburuk menyusul hukuman mati terhadap Al-Nimr, Sabtu pekan lalu. Ulama pengkritik keras kerajaan Saudi ini, bersama 46 terpidana lain, dihukum atas tuduhan terorisme. Nimr, 57 tahun, merupakan tokoh di balik gerakan protes anti-pemerintah Arab Saudi pada 2011.

    Nimr dihukum bersama tiga aktivis Syiah lain serta puluhan aktivis Sunni yang dituduh terlibat dalam serangan Al-Qaeda. Eksekusi Nimr memicu demonstrasi di Iran, Irak, dan Bahrain serta kalangan Syiah di provinsi timur Saudi yang kaya minyak.

    Arab Saudi telah memutus hubungan diplomatiknya dengan Iran. Tindakan diplomatis diambil setelah para demonstran di Teheran mengobrak-abrik kedutaan Saudi. Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan diplomat Iran memiliki waktu 48 jam untuk meninggalkan negara tersebut. Kemudian, petinggi Iran memperingatkan Arab Saudi bahwa, atas tindakan tersebut, mereka akan menghadapi konsekuensi.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.