Penjualan Satwa Liar Online Makin Marak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kedua kanan), mengamati suara burung yang dijual di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, 28 Februari 2015. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Presiden Joko Widodo (kedua kanan), mengamati suara burung yang dijual di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, 28 Februari 2015. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.COBandung - Ketua ProFauna Rosek Nursahid mengatakan perdagangan satwa liar Indonesia makin marak di Internet. Para pedagang di pasar-pasar burung pun ada yang beralih generasi dan menjual satwa liar secara online. “Sekarang kalau di Pasar Pramuka, misalnya, kebanyakan pajangannya burung-burung berkicau, sudah jarang satwa yang dilindungi,” ujarnya, Senin, 4 Januari 2015.

    Meski begitu, ProFauna masih saja menemukan adanya penjualan burung ilegal di pasar tersebut. “Sampai sekarang monitoring seperti di Pasar Pramuka dan Jatinegara, Jakarta, jalan terus, dan masih ada temuan,” katanya. Sejak 1996, ProFauna Indonesia secara rutin melakukan monitoring perdagangan satwa liar di pasar-pasar burung yang ada di Jawa dan Bali. Monitoring ini dilakukan untuk mengetahui tren perdagangan satwa liar yang bisa digunakan sebagai bahan kampanye dan penegakan hukum. 

    Seiring dengan makin majunya perkembangan teknologi komunikasi, perdagangan burung dan satwa langka sekarang mulai marak dilakukan dengan cara online. ProFauna mencatat sepanjang 2015 terdapat sedikitnya 5 ribu kasus perdagangan satwa liar secara online. Salah satunya lewat media sosial Facebook. Jumlah satwa liar yang diperdagangkan secara online itu meningkat cukup banyak dibandingkan dengan data tahun 2014, yang sedikitnya ada 3.640 iklan di media sosial yang menawarkan berbagai jenis satwa liar.

    Laju dan volume perdagangan di media sosial dapat menjadi sedemikian tinggi karena sangat mudah bagi pengguna untuk mengunggah penawaran satwa, berjejaring tanpa batas, dan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi dibanding perdagangan secara konvensional.

    Pada 2011, ProFauna Indonesia melakukan pengawasan perdagangan satwa primata, nuri, dan jenis satwa dilindungi pada 8 pasar burung di Jawa dan Bali. Di semua pasar burung tersebut setiap bulannya rata-rata ada 85 ekor primata yang diperdagangkan. Primata yang dijual tersebut terdiri atas 3 spesies, yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan kukang (Nycticebus coucang) yang dilindungi. Temuan penjualan primata terbanyak, yakni di Pasar Pramuka Jakarta dan Pasar Jatinegara. Jenis primata yang paling banyak diperdagangkan adalah kukang, rata-rata 12 ekor per bulan.

    Perdagangan burung nuri dan kakatua pada 2011 diperdagangkan rata-rata sebanyak 76 ekor setiap bulan. Burung yang diperdagangkan itu terdiri atas 11 spesies, yaitu kesturi ternate (Lorius garrulous), kakatua putih (Cacatua alba), nuri kalung ungu (Eos squamata), nuri kepala hitam (Lorius lorry), perkici pelangi (Trichoglossus haematodus), serindit jawa (Loriculus pussilus), betet biasa (Psittacula alexandri), bayan (Eclectus roratus), nuri ambon (Eos bornea), kakatua tanimbar (Cacatua goffini), dan kakatua jambul kuning (Cacatua galerita).

    Pasar burung yang paling banyak menjual burung nuri dan kakatua adalah Pasar Burung Pramuka, dan yang kedua adalah Bratang Surabaya. Penjualan kesturi ternate (Lorius garrulous) di Pasar Burung Pramuka sebanyak rata-rata 21 ekor per bulan, sedangkan di Pasar Bratang 20 ekor burung nuri kalung ungu (Eos squamata).

    Khusus perdagangan satwa yang dilindungi, selain jenis primata dan nuri, masih tinggi. Setiap bulan ditemukan rata-rata 21 ekor satwa dilindungi dijual di pasar burung tersebut. Jenis satwa dilindungi yang dijual itu terdiri atas 12 spesies, yaitu elang ular (Spilornis cheela), elang laut (Haliaeetus leucogaster), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), elang tikus (Elanus caereuleus), rangkong (Buceros rhinoceros), dan paok pancawarna (Pitta guajana).

    Juga ada landak jawa (Hystrix brachyuran), jalak putih (Sturnus melanopterus), serak jawa (Tyto alba),Tohtor (Megalaima armilaris), dan alap-alap sapi (Falco moluccensis), yang diperdagangkan. Jika ditotal dengan jenis primata dan nuri yang dilindungi, setiap bulannya rata-rata ada 44 ekor satwa dilindungi yang dijual di pasar burung.

    Menurut Rosek, pihaknya memastikan 95 persen burung-burung yang dijual tersebut, baik yang dilindungi maupun tidak, berasal dari tangkapan langsung dari alam. Adapun penangkar burung jumlahnya masih sedikit. “Pedagang lebih suka menangkap dari alam karena lebih murah,” katanya.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.